Pasca gempa berkekuatan 7,7 magnitudo, 15 Agustus 2026 lalu tidak saja memporak porandakan pemukiman dan fasilitas umum di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Namun juga merusak sedikitnya 1.500 bak penampungan air hujan milik warga pada 8 desa di wilayah Pulau Palue, menurut hasil verifikasi Tim Kementerian Pekerjaan Umum.
Akibatnya, ancaman bencana baru datang pasca guncangan gempa dahsyat itu. Ancaman itu berupa kesulitan air bersih.
Saat musim kemarau tahun 2026 ini, dari kejauhan, Pulau Palue terlihat gersang dan tandus. Hambaran ilang dan pepohonan hijau sangat minim jika lihat dari arah laut saat kapal hendak bersandar di Pelabuhan Kerica.
Ditengah kondisi pasca gempa dan ancaman kemarau, ada kisah yang datang dari kaum perempuan Pulau Palue yang punya cara sendiri dalam menghadapi krisis air saat ini.

Kaum Perempuan memanfaatkan potensi alam yang ada di Pulau Palue, yakni sumber panas bumi untuk mendapatkan air bersih untuk makan dan minum.
Perempuan-perempuan tangguh di Desa Roki Role misalnya. Setiap pagi dan petang selalu mendatangi Kampung Po’a, Dusun Cawalo. Tempat ini merupakan salah satu titik panas bumi dari aktivitas vulkanis gunung api Rokatenda. Jaraknya hanya 2 kilometer dari puncak.
Dengan jerigen ditangan mereka mendatangi tempat itu. Mereka menyuling uap panas bumi di sore hari dan mengambil air hasil suling pada pagi keesokan hari.
“Inilah cara kami bertahan menghadapi kesulitan air bersih seperti saat ini, usai diguncang gempa 15 Agustus lalu,” ungkap Rini Paji, perempuan berusia 40 tahun saat ditemui Kaddes.net, pekan lalu.
Rini Paji menuturkan, penyulingan uap panas bumi menjadi tetesan air ini merupakan cara tradisional. Aktivitas seperti ini dilakukan warga sejak tahun 1960-an.
“Sebelum menggunakan proses penyulingan uap panas bumi, nenek moyang kami minum air dari barang pisang,” paparnya.
Rini Paji menuturkan, untuk mendapatkan air bersih dari penyulingan, mula-mula dirinya dan juga perempuan di Kampung Cawalo mencari sumber panas bumi di sekitar lokasi.
Mereka lalu membuat lubang kecil untuk ditancapkan potongan bambu sebagai sarana penyulingan.
“Untuk mendapatkan 20 liter air biasanya dilakukan penyulingan selama 24 jam. Air ini digunakan untuk minum dan masak,” tutur Rini Paji.

Lebih dari itu, dia menuturkan, air hasil penyulingan uap panas bumi ini pun diyakini dapat menyembuhkan penyakit ginjal yang dialami masyarakat.
“Pernah ada ibu bidan yang bertugas di sini alami sakit ginjal. Karena rutin minum air hasil uap panas bumi, ia sembuh. Batu ginjalnya hancur,” kisahnya.
Selain di Kampung Cawalo, terang dia, aktivitas penyulingan uap panas bumi juga dilakukan kaum perempuan di Dusun Ko’a dan Kampung Tudu.
“Uap panas bumi ini selain sebagai sumber air bersih juga sebagai sumber dapur alam bagi masyarakat,” ungkap mama Biblia sambil memasak Ubi khas Palue di lubang yang digali.
Penyulingan uap panas bumi menjadi tetesan air bersih di Pulau Palue juga dilakukan kaum perempuan di Dusun Edo dan Dusun Natakuni, Desa Keso Koja.
Kaum Perempuan di dua dusun ini pun setiap pagi dan petang harus berjalan kaki sejak 500 meter hingga 1 kilometer menuju bukit Edo yang menjadi pusat penyulingan uap panas bumi.
“Sumber air bersih di sini tidak ada. Penyulingan uap panas Bumi di Bukit Edo inilah yang menjadi harapan dan andalan kami untuk ketersediaan air bersih,” tegas Emilia Kontera Da’a, warga dusun Natakuni.
Rudolfus Riba, Camat Palue membenarkan. Saat ini, kebutuhan mendasar pasca gempa, berupa air bersih.
“Di Pulau Palue sumber air bersih sangat minim. Kondisi ini membuat para ibu rumah tangga harus berjuang dengan memanfaatkan tetesan upa panas bumi sebagai sumber air bersih,” tegasnya.
Rudolfus Riba bilang, pasca gempa, bantuan air mineral dan tandon untuk menampung air bersih terus mengalir ke Pulau Palue. Namun demikian, bantuan yang ada belum mampu menjawab pemenuhan kebutuhan masyarakat akan air bersih.
“Bantuan air mineral yang ada khusus untuk minum. Sementara untuk mandi dan mencuci, warga biasanya menggunakan air payau dari sejumlah sumur milik warga yang ada dipesisir pantai pulau Palue,” ujarnya.*
Penulis: Tata Shinto I Editor: Sutomo Hurint
