Di sebuah rumah duka sederhana di Sandominggo, Flores Timur, Esther Elfrida Seran duduk mematung. Di pangkuannya ada tisu yang sudah basah.
Tiga tahun, empat kali tes, anaknya baru lulus polisi. Sekarang, anak yang tersayang itu pulang dalam peti.
Anak itu adalah Bharatu Laurentinus Valdo Fernandez Lewai. Polisi muda yang tewas dibunuh di Mako Polairud Baharkam Polri, Pondok Cabe, Tangerang Selatan.
“Anak saya, kalau sebelum pulang itu dia selalu bilang, ‘Mama, kalau bisa Ma, saya sampai ini Mama masak apa yang saya suka’,” ucap Esther menirukan suara anaknya.
“Saya membuat sambal, seperti yang dia minta dan itu selalu saya buat untuk dia kalau mau pulang,” jelasnya menambahkan.
Sambal itu tak pernah sempat dimasak. Sambal kesukaan Valdo itu tak pernah lagi diminta.
Anak Baik yang Lulus Setelah 4 Kali Gagal
Bagi Esther, Valdo bukan sekadar anggota Polri. Ia adalah anak yang selalu merengek minta disayang.
“Bagi saya anak saya itu anaknya baik. Ia kalau dengan saya, diminta apa saja saya pasti beri,” kata Esther lirih.

Esther menceritakan perjuangan Valdo untuk menjadi polisi tidak mudah. Tiga tahun, empat kali tes.
“Saya sebagai orang tua pasti merasa sangat terpukul karena anak saya ini sudah beberapa kali tes. Terus sekitar tiga tahun tes, empat kali baru lulus,” kenang Esther.
Tanggal 29 September adalah komunikasi terakhir ibu dengan anaknya. Tidak ada firasat. Tidak ada keluh kesah tentang pekerjaan.
“Yang dibicarakan itu, tanya baik tidak, dia bilang baik. Dia tidak pernah cerita,kalau dia menceritakan ada masalah sama teman-teman juniornya. Tidak ada,” ujar Esther.
Siapa sangka, 15 hari setelah telepon itu, tepatnya pada 16 Oktober 2026 dini hari, anaknya tewas dengan cara yang menurut ibunya sangat tragis.
Di Sandominggo, Esther Seran hanya punya satu permintaan yang lebih sederhana dan paling dalam sebagai seorang mama.
“Saya minta kepada Bapak Presiden kalau bisa usut tuntas masalah anak saya ini. Transparan supaya kami sebagai orang tua merasa puas. Hukum seberat-beratnya dengan apa yang dia buat kepada anak saya ini,” pintanya.
Di antara bau bunga duka dan sambal yang tak jadi dimasak, keadilan adalah satu-satunya yang kini ditunggu ibu itu.*
Penulis: Sutomo Hurint I Editor: Tata Shinto
