Motif Bully Dinilai Sumir — “Kalau Dendam ke Teman Korban, Kenapa Valdo yang Ditembak dan Ditebas,”?

Petrus Bala Pattyona, kuasa hukum keluarga Bharatu Laurentinus Valdo Fernandez Lewai (Foto:ist)

Bagaimana dendamnya si pelaku kepada teman-teman korban, tetapi justru Laurentinus Fernandez ini yang di bunuh?

Pertanyaan itu dilontarkan oleh kuasa hukum keluarga Bharatu Laurentinus Valdo Fernandez Lewai yang meninggal dibunuh di Mako Polairud Baharkam Polri, Pondok Cabe Tangerang Selatan.

Kuasa hukum keluarga, Petrus Bala Pattyona menilai penjelasan resmi Polda Metro Jaya soal motif pembunuhan janggal dan tidak transparan. Pihaknya meminta kejelasan soal motif penembakan yang disebut-sebut karena pelaku sakit hati sebab sering dibully teman-teman korban.

“Pertama kami ingin kejelasan tentang motivasi penembakan itu sendiri. Karena penjelasan pihak penyidik Polda Metro Jaya kepada kami bahwa pelaku melakukan pembunuhan itu karena sakit hati kepada teman-teman korban, bukan kepada korban. Karena teman korban sering mem-bully pelaku. Itu satu. Jadi buat kami itu ada suatu kejanggalan. Jadi ini buat kami belum transparan,” kata Petrus dalam wawancara dengan tvOne, Selasa 21 Oktober 2026.

Menurut Petrus, logika motif tersebut sumir. Jika pelaku dendam kepada teman-teman Valdo, seharusnya bukan Valdo yang menjadi korban.

“Jadi kecurigaan kami pertama, bukan pelaku tunggal. Motivasinya pun sumir sekali. Karena apa, bagaimana dendamnya si pelaku kepada teman-teman korban tetapi justru Laurentinus ini yang dibunuh. Kalau yang mem-bully dia, mem-bully tersangka itu teman-teman Laurentinus, kan seharusnya ke teman-teman Laurentinus, kenapa kepada Laurentinus Fernandez?” tegasnya.

“Jadi buat kami penjelasan penyidik Polda atau humas Polda itu justru menimbulkan kecurigaan, bukan hanya kepada kami sebagai kuasa hukum atau keluarga, juga menimbulkan kecurigaan kepada masyarakat,” lanjutnya.

Duga Pelaku Tak Sendiri

Petrus juga mempertanyakan status pelaku tunggal. Ia menyoroti bagaimana pelaku bisa mendapatkan dan membawa senjata laras panjang sekaligus sangkur ke dalam Mako.

“Yang kedua, apakah tersangka itu hanya tunggal? Karena bagaimana dia bisa mendapat senapan atau alat tembak itu? Apakah ada yang memberikan? Apakah dia mencuri di gudang, di pos penjagaan? Setidak-tidaknya pasti ada yang memberikan bantuan. Karena tidak mungkin dia membawa senapan panjang melakukan bersamaan misalnya dar-der-dor kemudian menebas leher korban,” ujarnya.

“Apakah pelaku seorang diri yang bisa membawa senapan bersamaan dengan sangkur?” tanya Petrus.

Ia juga mengungkap kejanggalan lain terkait lokasi kejadian. Baik korban maupun pelaku selama ini diketahui tidak tinggal di mes, melainkan kos di luar. Namun pada malam kejadian, Valdo tidur sendirian di mes.

“Kedua, pada saat itu tersangka juga tidak di mes, dia tinggal di luar mes, mereka kos. Korban pun tinggal ya di luar mes, dia kos. Tetapi pada malam itu dia tidur di mes. Jadi ini apakah ada suatu, ya kita tidak curiga, apa ada suatu rekayasa dia tidur sendirian di mes lalu pelaku datang?” katanya.

Jika pelaku datang pada dini hari sekitar pukul 03.00 atau 04.00, Petrus yakin semua terekam CCTV.

“Kalau pelaku datang kira-kira jam tiga atau jam empat kan semua ada CCTV. Jadi penjelasan dari penyidik dari Polda Metro Jaya ini atau Kadiv Humas ini buat kami malah menimbulkan tanda tanya,” ujarnya.

Desak Polisi Transparan

Petrus mendesak kepolisian tidak menutup-nutupi kasus ini dan membuka semuanya secara transparan sesuai slogan Kapolri.

“Apa yang mau ditutup-tutupi sekarang ini. Polisi harus transparan, harus mengikuti slogan Kapolri saat ini. Polisi dekat dengan masyarakat. Tapi kalau ada yang ditutup-tutupi pasti akan kami tetap kejar karena tidak mungkin begini,” tegasnya.

Ia menambahkan, CCTV bukan satu-satunya bukti untuk mengungkap kasus tersebut.

“Oleh karena itu kami mohon ya seperti kami katakan kemarin di penyidik, walaupun Bapak mempunyai CCTV tapi CCTV itu kan bukan satu-satunya, dia hanya memberi petunjuk pergerakan apa yang terjadi di dalam ruangan damkar itu,” katanya.

Keluarga, kata Petrus, hanya mengharapkan kejujuran dari pelaku untuk mengungkap siapa yang membantu menyiapkan senjata.

“Jadi keluarga mengharapkan kejujuran dari pelaku. Baik dia harus membuka siapa yang menyiapkan senjatanya, dari mana dia membawa sangkurnya, karena pasti ada yang memudahkan perbuatan ini,” pungkasnya.*

Penulis: Sutomo Hurint I Editor: Tata Shinto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *