9 Siswa SMP Swasta St. Gabriel Larantuka Diantar ke Klinik Tabali, Diduga Sakit Perut Usai Santap MBG

Menu makanan MBG di Sekolah SMPK St. Gabriel Larantuka

Sejumlah siswa SMP Swasta St. Gabriel Larantuka di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), terpaksa diantarkan pihak sekolah ke Klinik Tabali setelah mengalami sakit perut. Mereka diduga mengalami gejala tersebut usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala Sekolah SMPK Swasta St. Gabriel Larantuka, Sr. Maria Fabiana, PRR membenarkan ada sembilan siswanya yang mengalami sakit perut sehingga harus dibawa ke klinik untuk pemeriksaan.

“Kami sudah menyampaikan bahwa memang benar ada sembilan anak yang sakit perut dan kami dari pihak sekolah sudah mengantarnya ke Klinik Tabali dan dari pihak klinik menyampaikan bahwa itu sakit perut biasa,” jelas Sr. Fabiana saat ditemui oleh Kaddes.net pada Selasa, 27 Oktober 2026.

Meski demikian, Sr. Fabiana menegaskan peristiwa ini belum dapat dikategorikan sebagai keracunan MBG.

“Saya meluruskan ya, belum bisa dikatakan ini keracunan. Pertama saya dengar dari orang tua wali ya. Orang tua wali yang menyampaikan bahwa anaknya sakit perut. Lalu kami pihak sekolah mengambil tindakan untuk yang sakit itu diantar ke Klinik Tabali untuk bisa ditangani,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, informasi awal justru datang dari laporan orang tua wali murid, bukan temuan di lingkungan sekolah.

Untuk memastikan penyebabnya, pihak sekolah menyerahkan penanganan sepenuhnya kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Flores Timur.

“Tetapi untuk persoalan ini ya kami serahkan kepada pihak Dinkes yang selanjutnya memeriksa kembali sampelnya,” kata Sr. Fabiana.

Siswa Takut Makan, Sisa MBG Capai 2 Ember

Dampak dari isu dugaan keracunan tersebut langsung terasa. Pantauan Kaddes.net di sekolah tersebut pada Selasa siang, banyak siswa memilih tidak mengambil jatah MBG.

Dari total 400 siswa, hanya sekitar 30 persen yang masih mengkonsumsi MBG pada hari itu. Akibatnya, sisa makanan menumpuk.

Seorang guru menyebutkan biasanya hanya tersisa kulit pisang, namun kali ini sisa makanan mencapai hampir dua ember.

“Makanan sisa banyak sekali. Biasanya hanya kulit pisang yang tersisa. Tapi kali ini makanan sisa bisa capai 2 ember,” ungkapnya.

“Ini yang lain itu takut, karena dengar informasi keracunan toh, jadi tidak datang ambil jatahnya. Jadi makanan sisa banyak sekali,” pungkasnya.*

Penulis: Sutomo Hurint I Editor: Tata Shinto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *