Kemarau panjang tahun 2026 berdampak luar biasa bagi masyarakat Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Tanaman kering hingga kesulitan air bersih.
Di Kampung Hepang, Desa Nen Bura, Kecamatan Doreng yang dihuni 600 jiwa warga tengah mengalami kesulitan air.
Untuk mendapatkan air warga berjalan kaki berjarak tiga kilometer. Setidaknya itu sudah berlangsung selama tiga bulan terakhir ini.
Warga mulai dari anak-anak hingga para lansia, setiap pagi dan petang keluar masuk kawasan hutan Ilin Doreng, tempat sumber mata air Wair Lai.
Kondisi air sumber mata air Wair Lai pun sedang memprihatinkan. Debit air yang biasanya besar, kini menurun jauh. Belum lagi, air tampak keruh dan kotor.
“Kami kesulitan air bersih. Sehingga kami ke mata air ini untuk ambi air, walaupun kotor dan keruh” ungkap Marta Pusha ditemui Kaddes.net saat mengambil air dari mata air Wair Lai, Selasa 13 Oktober 2026 petang.

Menurut dia, sebelum gempa 15 Agustus lalu dan dibarengi musim kemarau ini, debit sumber mata air Wair Lai sangat besar dan bisa mengalirkan air ke rumah warga melalui jaringan perpipaan yang dibangun Pemerintah Desa Nen Bura.
“Selama ini air disalurkan lewat pipanisasi. Kini sudah tidak berfungsi karena debit air menurun drastis dari biasanya. Makanya warga di sini keluar masuk hutan menuju mata air,” terang Marta.
Marta menuturkan, untuk mendapatkan air di mata air Wair Lai, warga harus mengantri selama 5 jam. Setiap kepala keluarga dibatasi pengambilan air hanya sebanyak dua jerigen ukuran 5 liter.
“Kalau banyak warga yang datang, kami harus antri selama 5 jam untuk dapatkan air 10 liter. Karena debitnya kecil. Kadang kami pulang tanpa bawa air,” keluhnya.
Lanjut Marta mengisahkan, setibanya di rumah, air harus disaring sebelum digunakan untuk masak dan minum.
Sedangkan untuk mandi dan mencuci, kadang warga berjalan kaki sejuah tiga kilometer menuju pantai agar bisa menggunakan air dari sumur milik warga yang berada di pesisir Pantai Nen Bura.
“Mamang, selain Wair Lai, ada dua mata air lain di wilayah pegunungan. Jaraknya lebih jauh sehingga kami memilih ambil air di sini walaupun kotor,” tandas Marta.

Dampak krisis air bersih pada musim kemarau di Kampung Hepang, tidak saja dialami dan dirasakan warga umumnya. Namun juga para pelajar di SDN Hepang.
“Kalau dulu sebelum ke sekolah, kami mandi. Sekarang, kalau ke sekolah kami hanya bisa cuci muka,” ungkap Maria Ayu Ningsih Larasati, siswa kelas 4 SDN Hepang.
Selain untuk kebutuhan minum dan memasak di rumah, bagi Laras, juga berpengaruh kesehatan masyarakat, terutama anak-anak di kampungnya.
Laras berharap, Pemerintah Kabupaten melalui dinas terkait bisa menyalurkan bantuan air bersih agar warga bisa mengkonsumsi air yang sehat dan bisa mandi saat hendak berangkat ke sekolah.*
Penulis: Tata Shinto I Editor: Sutomo Hurint
