Karang Taruna Nibong Sika, Desa Sika, Kecamatan Lela, Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar festival budaya tahun 2026. Festival ini akan digelar di halaman Kantor Desa pada 22 Juli 2026 mendatang.
“Ini menjadi momentum untuk merayakan kekayaan budaya Sikka sekaligus memperkuat identitas Kampung Sika sebagai salah satu kawasan bersejarah di NTT,” kata Honorarius Quintus Ebang, Ketua Karang Taruna Nibong Sika, kepada Kaddes.net, Jumat, 17 Juli 2026 siang.
Quintus menjelaskan, Festival Natar Sika tahun 2026 mengusung tema “Celebration of Sikka and Portuguese Folk Culture”.
Tema ini mengajak masyarakat merayakan perjumpaan budaya Sika dan budaya rakyat Portugis yang telah membentuk sejarah Kampung Sika.
Tema ini juga sengaja menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional karena festival kali ini tidak hanya ditujukan kepada masyarakat lokal.
Tetapi juga, kepada wisatawan mancanegara, pegiat budaya, serta tamu dari Portugal yang akan hadir dalam festival.
“Festival Natar Sika bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi ruang dialog budaya yang menghormati sejarah panjang hubungan masyarakat Sika dengan Portugal,” katanya.
“Melalui festival ini, Karang Taruna Nibong Sika ingin menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya dikenang melalui bangunan atau arsip, tetapi terus hidup melalui seni, tradisi, dan kebudayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi,” jelasnya.

Quintus Ebang mengatakan, festival tahun ini paling istimewa sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2022.
Karena ini untuk pertama kali, Festival Natar Sika menghadirkan kelompok tari rakyat dari Portugal, Viras do Tio Xico.
Mereka akan menampilkan tarian tradisional khas Portugal. “Kehadiran mereka menjadi simbol persahabatan budaya sekaligus memperkuat hubungan historis antara masyarakat Sikka dan Portugal,” katanya.
“Selain pertunjukan Toja Bobu dan penampilan Viras do Tio Xico, festival juga akan menghadirkan pameran UMKM lokal, penelusuran jejak sejarah peninggalan Portugal di Kampung Sikka, serta berbagai pertunjukan seni dan budaya melibatkan masyarakat,” papar Quintus Ebang.
Ia mencontohkan, salah satu tradisi Portugis yang masih ada hingga kini adalah tarianToja Bobu sebuah sendratari yang telah menjadi bagian dari sejarah budaya Kampung Sikka.
Tarian ini mengisahkan seorang Prinseja, putri raja yang diperebutkan oleh tiga belas soldadu (pelamar) dari berbagai latar belakang pekerjaan.
“Dahulu, Toja Bobu dipentaskan setiap tanggal 26 Desember sebagai bagian dari tradisi masyarakat Kampung Sikka. Namun, tradisi ini sempat terhenti selama puluhan tahun hingga akhirnya dihidupkan kembali melalui Festival Natar Sika,” ungkapnya.
Lebih dari itu, lanjut Quintus Ebang, Festival Natar Sika merupakan gerakan generasi muda untuk memastikan praktik budaya tetap hidup dan terus diwariskan.

“Festival ini lahir dari kesadaran anak-anak muda Desa Sikka bahwa budaya hanya akan tetap hidup apabila terus dipraktikkan dan diwariskan. Kami tidak ingin Toja Bobu dan praktik budaya lainnya hanya menjadi cerita sejarah, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan dikenal oleh generasi yang akan datang,” tegas Pemuda Sikka yang kini mengemban tugas sebagai Koordinator KPA NTT.
Ia menambahkan Kampung Sikka merupakan ruang sejarah tempat berbagai tradisi saling berinteraksi dan melahirkan identitas budaya yang khas.
Festival ini menjadi refleksi bahwa warisan budaya tidak lahir dari ruang yang tunggal, melainkan dari proses panjang dialog, adaptasi, dan kreativitas masyarakat lokal.
“Kehadiran Viras do Tio Xico baginya merupakan momen bersejarah bagi Festival Natar Sikka. Kehadiran kelompok tari dari Portugal tersebut menunjukkan bahwa hubungan sejarah dapat terus dirawat melalui seni, budaya, dan persaudaraan antarmasyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Festival Natar Sika 2026, Laurentius Vianey, mengatakan seluruh persiapan festival dilakukan secara gotong royong oleh pemuda, masyarakat, tokoh adat, Pemerintah Desa Sika, serta berbagai pihak yang mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Festival Natar Sika adalah hasil kerja bersama masyarakat Desa Sika. Selama beberapa bulan terakhir kami persiapkan seluruh rangkaian kegiatan agar pengunjung tidak hanya menikmati pertunjukan budaya, tetapi juga merasakan keramahan masyarakat dan mengenal lebih dekat sejarah Kampung Sika.” tandasnya.*
Penulis: Tata Shinto | Editor: Sutomo Hurint
