Dunia pertanian tidak terlepas dari ketersediaan pupuk agar tanaman bisa tumbuh dengan hasil tanaman melimpah.
Namun lagi-lagi, sering terjadinya kelangkaan pupuk dengan meroketnya harga pestisida kimia, kadang membuat petani menjerit.
Realita yang dialami petani ini membuat mahasiswa fakultas Pertanian Universitas Nusa Nipa Maumere di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) membuat terobosan baru dalam mendukung ketersedian pupuk dengan menggunakan material yang ada di sekitar kebun warga.
Salah satunya buah meja (Aegle marmelos) yang dianggap sampah tak berguna hanya karena rasanya yang getir dan dibiarkan jatuh membusuk begitu saja di pinggir jalan desa.
Lewat sentuhan bioteknologi sederhana yang ada di kebun praktek fakultas Pertanian, buah yang identik dengan mitologi runtuhnya Majapahit ini berhasil disulap menjadi cairan organik ganda, berupa Pupuk Organik Cair (POC) sekaligus pestisida nabati berkekuatan tinggi.
“Praktikum ini bukan sekadar simulasi akademik demi menggugurkan kewajiban SKS. Namun sebuah gerakan dekolonisasi pertanian, sebagai sebuah tamparan ilmiah yang membuktikan bahwa kunci kedaulatan pangan kita sebenarnya berserakan di pekarangan rumah, bukan di gudang-gudang industri kimia multinasional,” Kata Marianus Mayolis, S.Agr.,M.Ling, Dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Teknologi Pangan, Pertanian dan Perikanan Unipa Maumere, Sabtu 30 Mei 2026.
Menurut Mayolis yang akrab disapa Brembo ini, secara sains, daya magis buah maja terletak pada senyawa metabolit sekunder yang selama ini menjadi benteng pertahanannya dari alam.
“Rasa pahit yang luar biasa itu adalah indikator visual dari tingginya kandungan tanin, saponin, flavonoid, dan alkaloid,” papar Brembo.
Brembo menjelaskan, melalui proses fermentasi terukur, zat-zat ini diekstrak menjadi senjata biologis yang mematikan bagi hama, namun sepenuhnya ramah bagi lingkungan.
“Hebatnya, buah maja tidak hanya pandai mengusir musuh. Daging buahnya kaya akan kandungan Kalium (K), Fosfor (P), dan Nitrogen (N) organik,” jelasnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, ketika difermentasi bersama bioaktivator, limbah pahit ini bermutasi menjadi minuman energi bagi mikroba tanah, merehabilitasi tanah yang mengeras dan mati akibat overdosis pupuk kimia selama berdekade-dekade.
“Praktek menyulap buah Maja menjadi pupuk organik ini sebagai bentuk mendukung kemandirian ekologis,” tegasnya.
Yohanis Oktavianus, Mahasiswa semester 4 Program Studi Agroteknologi mengatakan, melalui optimalisasi buah maja, mahasiswa tidak hanya sedang belajar membuat pupuk dan pestisida, tetapi sedang menenun kembali kemandirian dan kedaulatan pangan bangsa dari akar rumput.
“Sudah saatnya kita mengubah paradigma. Pertanian modern bukanlah tentang seberapa banyak bahan kimia yang mampu kita beli dan semprotkan ke lahan, melainkan seberapa cerdas kita membaca potensi alam untuk merawat bumi,” ujarnya.
Ia berharap, masyarakat perlu pelestarian pohon maja di Kabupaten Sikka agar tidak menebang karena sangat berguna untuk pertanian berkelanjutan.
“Maja yang dahulu pahit, kini berpotensi membawa manis bagi masa depan pertanian Indonesia agar petani pun bisa mengubahnya menjadi pupuk dan pestisida organik,” harapnya.*
Penulis: Tata Shinto | Editor: Sutomo Hurint
