Jika desa lain merayakan hari jadi dengan spanduk dan seremonial, Desa Kobosoma di Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, NTT memilih cara berbeda. Mereka mengenang HUT desa dengan membuka turnamen sepak bola.
Sebanyak 26 tim dari pelosok desa dan kota di Kabupaten Flores Timur akan berkumpul. Bukan untuk piala semata, tapi untuk mengenang sebuah perjalanan panjang.
Masa 49 tahun lalu, tidak ada yang bernama Desa Kobosoma. Yang ada hanya dua kampung tua di atas bukit yakni Riang Puka Ono dan Lewo Lalang. Dua nama yang kini hanya hidup dalam ingatan para tetua.
Hujan, jarak, dan harapan akan masa depan yang lebih baik membuat mereka turun, bergabung, dan membangun satu rumah baru yang mereka beri nama Kobasoma.
“Ini bukan sekadar turnamen,” kata Kepala Desa Kobosoma, Wilfridus Yohanes Mado dengan suara pelan.
“Ini cara kami mengenang perpindahan itu. Cara kami bilang kepada anak cucu, kita pernah dari dua kampung yang berbeda, sekarang kita satu,”ungkapnya.
Turnamen Kobasoma Mini Soccer
Turnamen itu diberi nama Kobosoma Mini Soccer. Sebuah pra acara sederhana, pemanasan sebelum pesta yang sesungguhnya pada pada 17 Agustus 2027 mendatang.
Mini Soccer tahun ini akan dibuka pada 4 Oktober dan berakhir pada 28 Oktober 2026, sengaja dipilih bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.
“Kami ingin anak-anak muda ingat, seperti Sumpah Pemuda yang menyatukan Indonesia, perpindahan kampung kami dulu juga adalah sumpah untuk bersatu,” ujar Wilfridus.

Wilfridus mengatakan lapangan tempat anak-anak akan bertanding pun belum sempurna. Hingga hari ini warga masih mencangkul, meratakan tanah, dan menimbun lubang.
Karena itu, di sela wawancara, Wilfridus tak meminta banyak. Ia hanya menitip pesan kepada pemerintah Kecamatan maupun Kabupaten dan warga diaspora Kobasoma yang berada di perantauan untuk turut membantu.
“Kami mohon dukungan, dari pemerintah dan dari masyarakat, dari semua sanak saudara Kobosoma baik yang di Kecamatan, di Kabupaten Flores Timur, maupun yang di tanah rantau,” pintanya.
Bola adalah bahasa
Bagi Wilfridus, bola bukan sekedar pertandingan tapi adalah sebuah bahasa untuk memperkenalkan budaya dan kultur masyarakat desa Kobasoma.
“Budaya kami sangat lain dari desa-desa tetangga. Kami ingin publik mengenal kultur kami. Bukan hanya di Flores Timur, tapi untuk NTT dan untuk Indonesia,” ungkapnya.
Sementara itu, sekretaris panitia penyelenggara Kobasoma Mini Soccer Romanus Nuho Wato mengatakan antusiasme warga meluap.

Hingga kini sudah 26 tim mendaftar dan sudah dibagi dalam 6 grup melalui undian lotre.
“Panitia sudah diskusi, sudah bertemu dengan seluruh masyarakat. Semua sepakat untuk berkontribusi. Siapkan lapangan, siapkan sarana. Paling tinggal jalan tengah itu kami ratakan sedikit supaya transportasi mudah,” kata Romanus.
Di Kobosoma, sebuah turnamen mini soccer bukan tentang siapa yang paling jago mencetak gol. Ini tentang dua kampung lama yang kini menjadi satu desa.
Tentang jalan rusak yang mereka harap bisa mulus. Tentang budaya yang ingin mereka perkenalkan dan tentang janji untuk merayakan 50 tahun kebersamaan di bulan Oktober ini.*
Penulis: Sutomo Hurint I Editor: Tata Shinto
