Perempuan Adonara: Kisah Ria Penenun Cinta dari Balik Bambu

Maria Tuto Demon (31) Pendiri Rumah Tenun Milenial

Kursi plastik warna hijau di rumah beratap alang-alang, duduk Mariana Tuto Demon (31) dengan sarung berwarna merah menyala di pangkuannya.

Tangannya terus bergerak menjelaskan satu persatu motif yang baginya bukan sekedar gambar melainkan buku sejarah yang ditenun.

Mariana perempuan asal Desa Boleng, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini bukan perempuan biasa. Ia, lulusan sarjana Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, wisuda tahun 2018.

Jalan mulus seharusnya menjadikan Ia seorang pegawai di sebuah instansi pemerintah.Tapi, panggilan nurani sebagai anak yang berbakti terhadap orang tua datang disaat yang sama.

“Saya pulang wisuda, bapak sakit. Harus operasi. Habis operasi, saya merawat bapak di rumah. Jadi, saya isi dengan kegiatan menenun sambil jaga bapak,” kisah Mariana kepada Kaddes.net pada Jumat, 25 September 2026.

Keresahan dan Titik Balik Usaha

Bagi Mariana, menenun adalah warisan yang mengalir turun-temurun, dari mama kepada anak perempuannya. Namun, ada sekelumit kegelisahan yang ia simpan lama dalam hatinya.

Anak-anak muda sekarang memegang benang, tapi tidak tahu benang terbuat dari apa. Mereka melihat kain yang telah jadi, tanpa tahun alat yang memisahkan biji kapas dari seratnya.

“Pengetahuan ini hampir putus. Kita, tidak tau di mana, ada tempat seorang perempuan dapat belajar menenun. Tidak ada,” keluh Ria, sapaan akrabnya.

Titik balik inspirasinya datang dari layar handphone. Ia melihat Instagram seorang pengiat budaya di Sumba Timur. Pegiat itu punya galeri kecil. Tak hanya menjual kain, tapi juga menyimpan alat-alat tenun kuno di dalamnya.

“Selain menjual kain tenun, dalam galeri tersebut ia simpan alat-alat tenun yang dulu. Jadi ketika orang datang beli, dia menjelaskan bahwa kain tenun ini dihasilkan dari alat-alat tersebut. Dari situ, saya mulai terinspirasi,” cerita Ria.

Ide galeri ini, ia bawa ke desa. Diusulkan jadi BUMDes. Tapi, pemahaman tak sama. Desa tak kunjung merealisasikan kerja sama ini.

“Yah sudah, nanti saya punya modal sendiri, saya akan bangun sendiri,” Maria membatin.

Tahun 2022, ia mulai bangun rumah tenun sendiri. Berselang setahun, pada tahun 2023, ia kembali bangun sebuah pondok.

Galeri kecil ‘Rumah Tenun Milenial’ milik Maria Tuto Demon di desa Boleng, Adonara

Bangunannya sederhana saja. Berdinding bambu dan beratap daun alang-alang. Ciri khas rumah orang Lamaholot.

Modalnya, datang dari hasil todong dari senior-senior saat kuliah.

“Kayak todong ke senior. Dari senior kan tanpa bantah kalau mereka beli. Nah, dari situ tuh rasa kayak daripada saya kerja di kantor mending saya duduk tenun,” ungkapnya.

Akhirnya dalam perjalanan waktu, komunitas ‘Rumah Tenun Milenial’ yang dibangun, dapat dukungan dari Lembaga Samdana Institut.

“Dukungan Samdana Institut sangat berarti bagi pengembangan galeri kecil ini. Dari pendampingan, pelatihan, hingga bantuan pemasaran,” ungkapnya.

Dunia yang Hampir Hilang

Mariana tidak mau hanya sekedar menenun. Rasa penasaran selalu saja muncul. Dia berjalan dari mama-mama, penenun ke menenun, bertanya arti dari gambar motif yang ada dalam kain tenun.

“Motif yang ada di setiap kain itu kan ada gambarnya beda-beda. Kira-kira artinya apa, filosofinya apa, kayak begitu. Jadi itu lebih banyak saya cari tahunya ke mama-mama,” tuturnya.

Dari sana, ia menemukan dunia yang hampir hilang. Baginya, tenun bukan sekedar sandang. Ia adalah bahasa dan adap Lamaholot.

“Setiap motif itu ada ceritanya. Misalnya kenapa motifnya ikan Nila. Saya mulai cari tahu. Ternyata, bukan sekedar gambar Ikan Nila. Tapi, itu lebih ke penghargaan seorang perempuan ke suaminya yang kreatif,” jelas Ria.

Namun, kata Ria selama ini penenun kita hanya asal buat dan asal tenun, mereka tidak melihat bahwa sebenarnya setiap motif itu punya cerita di balik itu.

“Misalnya, motif Gala lolo atau mata tombak. Motif ini menceritakan tentang kebiasaan hidup laki-laki Lamaholot yang mana selalu membawa tombak yang dipikul di bahu, apa bila ke kebun,” tambah dia.

Sarung tenun ikat Lamaholot dengan aneka motif dipajang dalam ‘Rumah Tenun Milenial’

Ria mengatakan pemakaian setiap motif pun punya aturannya masing-masing, tidak digunakan sembarangan.

“Aktivitas sehari-hari misalnya ke pasar atau ke kebun, itu punya motifnya sendiri. Acara kematian juga punya motif sendiri, itu motif yang berbeda-beda,” ungkap Ria.

Motif-motif yang digunakan juga menunjukkan peran dan posisi seseorang dalam tatanan sosial kemasyarakatan.

“Seorang Kabelen Lewo atau bangsawan, punya motifnya sendiri,” ujarnya.

Adapun motif yang sakral adalah Bala Mapan. Bagi orang luar mungkin hanya mengetahui sarung sutra bermotif ini mahal. Tapi, bagi orang Adonara Bala Mapan adalah pengganti gading. Kain sarung yang diserahkan pihak perempuan kepada pihak laki-laki saat pengantaran gading.

“Kain tenun sebagai Bala Mapan ini punya ciri khas sendiri. Kainnya harus berbahan kain sutra dan motifnya juga berbeda sesuai posisi dan kedudukan pengantin dalam masyarakat,” jelas Ria.

“Salah motif salah pula harga diri keluarga,” tambah Ria.

Ria mengatakan kain dan motif menunjukkan kedudukan tanpa perlu banyak kata. Semua orang akan tahu kedudukan seseorang dari helaian yang melilit tubuhnya.

Disinilah, Ria menemukan kekuatan terbesar dari kain tenun Lamaholot. Reseller-reseller yang ada di Malaysia, Batam, hingga di Papua tidak lagi gagap menjelaskan tentang tradisi budaya dan peradaban Lamaholot melalui kain tenun.

“Jadi cerita tentang nilai-nilai, sejarah, budaya dan peradaban Lamaholot itu jauh lebih mahal dari kain sutra itu sendiri,”tegasnya.

Fokus Pewarnaan Alam

Ria ingat betul pesan leluhurnya, pakaian adat Lamaholot, tidak pernah kenal kimia. Kunyit untuk warna kuning, kulit akar Mengkudu untuk warna merah, daun Tarum dan daun Nila ditumbuk untuk warna biru indigo.

Para mama-mama menjemur benang yang direndam dengan pewarna alam

“Dulu kan hanya itu,” katanya sambil meremas-remas kain tenun di tangannya.

Sebab itu, ketika trend tenun pewarna kimia masuk dengan warna-warni ngejreng dan dengan proses yang cepat, Ria menolak.

“Untuk proses pewarna kimia kita tidak pakai disini. Kita fokus ke pewarna alam semua,” tegas Ria.

Keputusan yang terlihat terlambat namun berhasil membuka pintu dunia. Wisatawan asing datang. Mereka tidak hanya melihat namun mencium aroma keasliannya.

“Bule kalau datang dia gigit kain. Kalau pahit ada lilin, dia tahun itu masih kimia. Kalau rasanya hambar maka dia tahu ini katun murni,” cerita Ria sambil tertawa.

Sebab itu, benang pabrik yang baru datang tidak langsung ditenun, benang itu dicuci berulangkali sampai zat lilin pabrik luntur dan hanya menyisakan serat katun.

“Benang dari toko pun datang kita cuci dulu, baru kita tenun karena zat lilinnya banyak. Dipastikan bahwa kain tidak mengandung unsur kimia baru kita tenun,” paparnya.

Rumah Kedua Bagi 90 Mama-mama di Adonara

Hari ini, ‘Rumah Tenun Milenial’ telah menjadi rumah, ruang bagi 90 orang mama-mama di Kecamatan Ile Boleng, khususnya desa Boleng, Gayak dan Nobo.

Tidak ada absen, tidak ada jam kerja. Para mama dapat menenun di rumah masing-masing, di sela mengurus kebun dan anak-anak.

Kerja Ria, hanya satu hal yakni memastikan benang bagi mama-mama penenun tidak pernah putus.

Anak-anak remaja perempuan di desa Boleng tengah belajar memintal benang

“Saya yang suplai benang buat mama-mama agar mereka bisa tenun di rumah,” ujar Ria.

Sistemnya sederhana dan memanusiakan. Ria antar benang, mama-mama dapat menenun sesuai waktu mereka sendiri.

Setelah jadi, Ria jemput dan beli tunai. Tidak ada sistem titip yang membuat mama-mama harus menunggu tunggu laku baru dapat uang.

“Setelah selesai ditenun, saya beli. Kemudian, saya kirim ke reseller-reseller yang ada di luar daerah dan luar negeri, seperti Batam,Papua, dan Malaysia,” katanya.

Setiap hari galeri itu hidup. Motor Ria berhenti, karung dibuka, dan lembaran-lembaran kain tenun yang masih hangat dari lat tenun dikeluarkan.

“Tiap hari pasti saya terima tenun dari mama-mama penenun itu bisa 3 hingga 4 buah sarung tenun,” ujarnya.

Soal harga bervariasi. Terendah itu diangka Rp. 200 ribu hingga bisa mencapai jutaan.

“Kalau benang ada yang benang dari kapas asli, Itu harga paling rendah di dua jutaan,” kata Ria.

Bagi Ria, nilainya bukan angka. Galeri itu telah membuka cara pandang orang melihat kain sarung Lamaholot. Dulu mama-mama terpaksa menenun untuk pakai sendiri.

Namun, sekarang mereka tahu, bahwa setiap gendokan kayu di samping rumah mereka, kebutuhan dapur dapat terpenuhi dan anak-anak mereka bisa sekolah.

Tanah Perempuan 

Ria menatap kosong kebun seluas satu hektar di halaman rumahnya. Matanya melihat hal lain yang tidak kita lihat.

“Masih kecil. Tapi, saya itu punya mimpi kak, disini akan jadi galeri tenun yang besar,” katanya pelan, tapi yakin.

Mimpinya itu tidak tanggung-tanggung. Ia ingin galeri kecil di Boleng, bakal jadi perpustakaan hidup. Tempat, dimana semua motif Lamaholot dipajang. Bukan sekedar kain tapi dengan ceritanya.

Anak-anak remaja perempuan desa Boleng berkunjung ke ‘Rumah Tenun Milenial’ untuk belajar menenun

“Jadi semua motif tenun Lamaholot akan dipajang disini. Semua orang yang mau belajar dan mendalami tenun ikat, mereka dapat belajar di sini,” paparnya.

Untuk mewujudkan mimpinya, pada halaman rumahnya seluas satu hektar itu akan ditanami kapas dan tanaman bahan pewarna alam.

“Tanam kapas semua. Ini kan kebunnya masih besar Bang, jadi masih bisa untuk saya tanam kapas dan tanam bahan pewarna,” sambil menunjuk pada bagian halaman rumahnya.

Ini bukan soal bisnis. Tapi, ini tentang kedaulatan perempuan.

“Kita mau jadikan Adonara Pulau Tenun. Kenapa dia jadi pulau Tenun karena menurut saya Adonara itu tanah perempuan, tanah yang sebenarnya penuh cinta sebenarnya,” ungkap Ria.

Bagi Ria, Adonara adalah tanah perempuan. Tanah yang menenun cinta menjadi kain, tanah yang menanam harapan menjadi warna. Dan mimpi itu, sedang Ia tenun pelan-pelan dari sebuah galeri kecil di ujung Tanah Boleng.*

Penulis: Sutomo Hurint I Editor: Tata Shinto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *