Masebewa, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu desa terdampak banjir bandang yang terjadi pada Jumat, 20 Maret 2026 lalu.
Saat berada di aliran sungai Lowo Regi, suasana tampak ramai dengan adanya aksi gotong royong warga bersama Tim BPBD Sikka memperbaiki ruas jalan yang putus tersebut.
Namun dibalik itu, ada pemandangan yang cukup menyentuh hati oleh anak-anak Desa Masebewa saat berada di sebelah timur dari aliran sungai Lowo Regi.
Sekelompok anak-anak, dengan jerigen di tangan, turun dari jalan utama menyusuri aliran sungai Lowo Loo.
Dibalik batu gunung yang cukup besar, anak-anak ini mengisi air dalam jerigen yang mereka bawah dari rumah.
Air dengan debit kecil yang keluar dari mata air dibalik batu besar ini digunakan sebagai sumber air minum dan memasak untuk keluarga mereka di rumah.
“Air ini kami ambil untuk minum dan masak pak,” ungkap Katarina Sa Hurit (14) dan Febriyanti Lambu Polu (15) kepada Kaddes.net, Selasa petang.
Untuk mendapatkan air bersih dibalik batu ini, Katarina dan Febriani mengisahkan, warga Dusun Pamabaim itu anak-anak maupun orang dewasa, harus berjalan kaki sekitar 500 meter dari rumah mereka.
Kondisi ini dilakukan lantaran tidak ada jaringan air bersih di kampung mereka sejak beberapa tahun terakhir.
“Di kampung kami belum ada jaringan air bersih. Ini jaringan air bersih yang ada digunakan untuk warga di dusun Masebewa,” tutur keduanya sambil menunjuk jaringan air bersih yang lintas di aliran Lowo Lo’o.
Kedua anak ini pun menitipkan pesan, agar di wilayahnya mendapatkan saluran jaringan air bersih yang masuk ke rumah.
Dengan demikian, warga bisa menggunakan air bersih dengan layak. Mengingat di wilayah ini terdapat sejumlah sumber mata air pegunungan yang bisa dijadikan sumber air bersih.
Jaringan air bersih rusak akibat banjir
Pasca terjangan banjir bandang di Desa Masebewa, juga berdampak pada sumber air bersih untuk warga.
Akibat banjir bandang yang terjadi, sejumlah jaringan pipi air bersih kini mengalami kerusakan.
“Dampak banjir kali ini, tidak saja jalan putus, sawah rusak, namun jaringan air bersih pun rusak,” terang Kepala Desa Masebewa, Geradus Erasmus.
Menurut Kades Arnold, demikian sapaan keseharian, saat ini warga Masebewa pun mengalami krisis air bersih.
Untuk mendapatkan air bersih, warga mencari sumber mata air yang ada untuk digunakan sebagai sumber air minum.
“Bahkan ada warga yang terpaksa harus membeli dari mobil air bersih,” paparnya. *
Penulis: Tata Shinto I Editor: Sutomo Hurint
