Wuring merupakan salah satu kampung nelayan tua yang ada di pesisir barat Kota Maumere, tepatnya di Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, NTT.
Sejak belasan tahun hingga dua hari menjelang hari raya Idul Fitri tahun 2026, ruas jalan menuju kampung yang pernah diporak-porandakan gempa bumi dan tsunami 12 Desember 1992 ini, dalam kondisi rusak parah.
Padahal diujung kampung yang ada wisata masjid terapung dan pelabuhan rakyat yang menjadi penopang perekonomian dan wisata di Kabupaten Sikka.
Kondisi kerusakan jalan ini terlihat mulai dari pertigaan Trans Maumere-Magepanda, hingga ke ujung Kampung Wuring yang menjadi lokasi masjid terapung.
Akibat kondisi jalan yang rusak ini, warga pun menanam sejumlah pohon pisang di tengah jalan, sebagai aksi protes.
“Kami tanam pohon pisang karena kesal. Sudah belasan tahun jalan ini tidak pernah diperbaiki,” ungkap Iramaya Abdul Wahid, salah seorang ibu pedagang ikan yang terlibat dalam aksi penanaman pohon pisang, saat ditemui kaddes.net, Rabu 18 Maret 2026 petang.
Iramaya menuturkan, jauh sebelum aksi tanam pohon pisang, warga sudah menyampaikan kerusakan jalan namun tidak pernah diperbaiki.
“Kami sudah sampaikan ke pemda namun kami hanya sebatas dijanjikan, dengan janji manis baik itu bupati Sikka maupun anggota DPRD yang kami pilih,” tuturnya.
Iramaya pun mempertanyakan apakah Kabupaten Sikka saat ini dalam kondisi miskin, sehingga tidak mampu membiayai perbaikan ruas jalan yang rusak.
“Kami tidak butuh orang pintar untuk jadi pejabat. Namun orang bijak yang peka terhadap kesulitan rakyat,” tegasnya penuh kesal.
Walaupun telah menanam pisang, warga pun menurunkan sepuluh truk material tanah yang akan digunakan sebagai material untuk menutupi sejumlah titik jalan yang berlubang dan digenangi air.
“Tumpukan tanah ini hasil swadaya warga. Nanti kami ratakan agar jalan lebih baik. Sehingga bisa dilewati kendaraan saat jelang lebaran yang tinggal menunggu jam,” tandasnya. *
Penulis: Tata Shinto I Editor: Sutomo Hurint
