‘Banyak Cinta di Nagi’ Ungkapan Hati Cintya, Peziarah Semana Santa dan Posko Toleransi Ekasapta

Cintya dan rombongan peziarah berisitirahat di Poskoh Toleransi Ekasapta

“Banyak Cinta di Nagi”, begitulah ungkapan hati dari salah satu peziarah ketika tiba di Kota Larantuka untuk mengikuti perayaan Pekan Suci Semana Santa.

Chintya Kefi, nama peziarah itu. Ia berasal dari Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Chintya dan rombongannya baru tiba di Kota Larantuka pada Senin, 30 Maret 2026. 

Kendati baru tiba di Kota Larantuka, Cintya mengaku langsung terkesan dengan kehangatan dan keramahan warga Kota Larantuka.

Salah satu hal yang membuat dirinya begitu terkesan adalah ketika dilayani secara baik oleh umat Muslim di Posko Toleransi, Kelurahan Ekasapta.

“Tadi itu kami sempat berbelanja kebutuhan kami untuk selama beberapa hari kedepan di pasar. Matahari sedang terik, kami berdiri dipinggir jalan. Namun, kami dipanggil untuk berteduh di Posko Toleransi,” ungkap Cintya.

“Di posko tersebut kami disediakan air minum, teh, dan kopi. Kami juga disediakan alat cas untuk mencas HP,” cerita Cintya.

Bagi Chintya, di Kota Nagi (penyebutan lain dari Kota Larantuka), dirinya menemukan kebaikan kasih yang tidak ditemuinya di kota-kota lainnya.

Cintya berharap semangat toleransi di Kota Larantuka menjadi simbol dan contoh, perbedaan dapat dirawat menjadi kekuatan bersama.

“Sulit kita menemukan semangat toleransi seperti ini di kota-kota lainnya. Kota Larantuka menjadi contoh dan simbol persatuan,” ungkap Cintya.

Berakar Dari Rahim Tradisi

Lurah Kelurahan Ekasapta, Dave Valentino Mautuka mengungkapkan posko tersebut dibuat untuk menyambut para peziarah yang akan mengikuti kegiatan Semana Santa di Kota Larantuka.

Lurah yang akrab disapa Koko Dave ini menuturkan ide atau penggagas pembentukan posko ini berasal dari Karang Taruna Kelurahan Ekasapta.

Anggota Karang Taruna Ekasapta menyiapkan air minum bagi peziarah

“Penataan posko ini juga dilakukan oleh anak-anak Karang Taruna disini.  Semuanya mereka yang siapkan,” ungkap Dave.

Dia menjelaskan penamaan posko dengan nama ‘Toleransi’ dilatarbelakangi oleh masyarakat Ekasapta yang bermayoritas beragama muslim.

Dave menuturkan Toleransi Antara umat beragama di Kota Larantuka berakar pada tradisi.

Dimana, umat Katolik dan umat Muslim di Kota Larantuka adalah dua bersaudara yang berasal dari rahim yang sama yakni rahim Lamaholot.

“Ada hubungan darah, kekerabatan dan kerja sama untuk saling tolong menolong antara warga umat Katolik dan Muslim sudah terbentuk dan terjadi sejak masa dahulu,” ungkap pria yang berkacamata ini.

Fasilitas Gratis

Sementara itu, Oncu Bethan, Ketua Posko Toleransi Ekasapta mengatakan posko ini terbuka bagi seluruh peziarah yang hendak mengikuti perayaan Semana Santa di Kota Larantuka.

Oncu menjelaskan fasilitas yang tersedia di dalam posko toleransi adalah karpet permadani, air putih, kopi, teh, dan 2 buah terminal kabel cokrol bagi peziarah yang mau mengecas HP.

Selain itu, posko tersebut juga disediakan fasilitas WC umum bagi para peziarah.

“Semua fasilitas ini adalah sumbangan dari masyarakat Ekasapta. Disiapkan secara gratis bagi peziarah. Baik peziarah di dalam kota maupun di luar kota,” ungkap Oncu.

Oncu menjelaskan posko tersebut terbuka selama 24 jam untuk melayani para peziarah. Posko akan dijaga oleh 20 orang  anggota Karang Taruna Ekasapta.

“Seluruh peziarah bisa mampir disini. Walaupun hanya sekedar melepas lelah. Mau ngopi atau ngeteh akan kita layani dengan tulus hati,” ungkap Oncu.

“Juga, peziarah dari luar kota yang tiba tengah malam dan belum dapat penginapan dapat menggunakan posko ini untuk istrahat,” tutup Oncu.

Penulis: Sutomo Hurint I Editor: Tata Shinto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *