Umat dan Peziarah Harus Jaga Semana Santa Dalam Semangat Satu Tubuh, Satu Roh dan Satu Harapan

Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Pr, Uskup Larantuka

Umat Katolik Keuskupan Larantuka bersama ribuan peziarah kini memadati Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengikuti Semana Santa Tahun 2026.

Ditengah rangkain prosesi Semana Santa yang ditandai dengan Rabu Trewa, hingga Minggu Haleluya nanti, ada pesan yang dititipkan Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Pr.

“Umat dan Peziarah mari menjaga Semana Santa dalam semangat satu tubuh, satu roh dan satu harapan,” ungkap Mgr. Hans Monteiro usai memimpin Misa di gereja Katedral Larantuka, Kamis, 2 April 2026 pagi.

Uskup menuturkan sebagai umat Allah, kehidupan yang dijalani saat ini berasal dari Kristus yang hidup, sengsara dan wafat disalib dan kembali memberi kehidupan baru melalui kebangkitanNya.

“Dari salib dan kebangkitanNya, Dia mengutus roh yang baru dengan demikian kita semua disatukan dan dikuatkan dalam satu harapan menunju kehidupan paripurna di kerjaan Allah yang kekal,” tegas Mgr. Hans Monteiro.

Dialog Bersama

Kehadiran tradisi Semana Santa yang sudah berjalan lebih dari 500 tahun di Kota Larantuka ini dilewati dengan tantangan.

“Saya percaya, umat di Larantuka susah melewati tantangan demi tantangan itu,” lanjut Uskup Larantuka.

Monsinyur Hans menuturkan, untuk suatu perkembangan dunia yang baru, dalam tradisi Semana Santa ada hal yang perlu disesuaikan tapi ada hal-hal inti yang tetap dijaga dan dipelihara.

“Karena satu tradisi tanpa penyesuaian, dia akan tinggal dalam museum beku.Tapi suatu modernitas tanpa akar yang kuat dan tradisi, maka itu akan kehilangan arahnya,” paparnya.

Sebab itu, dialog komunikasi akan terus dibangun, baik dari penjaga, pelaku tradisi Semana Santa maupun pemerintah.

“Karena hari ini, Semana Santa bukan lagi menjadi pelaku semana santa, tapi menjadi warisan budaya yang diakui pemerintah,” ungkap Uskup Hans Monteiro.

Menurutnya, untuk mengatasi perubahan jaman dengan ditetapkannya Semana Santa menjadi warisan umat Katolik di Larantuka oleh UNESCO, dibutuhkan dialog yang baik antara pelaku semana maupun pemerintah, dan gereja.

“Dengan demikian, terbentuk suatu strategi yang akan dijalani kedepan untuk ciptakan Semana Santa yang ramah bagi semua orang,” tandas Mgr. Hans.*

Penulis: Tata Shinto I Editor: Sutomo Hurint 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *