Oleh: Sutomo Hurint
Senjata pamungkas seorang aktivis mahasiswa adalah berbicara. Baik dalam situasi formal maupun non-formal. Dalam diskusi,rapat, seminar dan pertemuan yang lain biasanya seorang aktivis mahasiswa tampil berbicara, berorasi atas nama kebenaran dan keadilan. Memang itulah ciri seorang aktivis tidak boleh diam.
Peran para aktivis mahasiswa dalam menentukan arah dan tatanan kehidupan bangsa dan negara ini sangatlah besar. Sejarah Indonesia antara lain diukir oleh para aktivis mahasiswa.
Tidak sedikit mahasiswa yang terpanggil menjadi aktivis guna memperjuangkan kebenaran dan keadilan, menentang kekerasan, ketidakadilan, dan ketidakbenaran. Turun kejalan, melakukan demonstrasi adalah media perjuangan para aktivis yang sudah dikenal masyarakat luas.
Saya ingin menawarkan salah satu media yang tak kalah serunya dengan media turun ke jalan dengan berdemonstrasi. Media ini sangat efektif dan efisien, dan berpengaruh besar bagi masyarakat banyak.
Media baru yang dimaksud adalah menulis opini di media massa, baik media cetak, maupun media online. Seorang aktivis jangan hanya pintar berbicara tetapi juga pintar menulis.
Pendiri bangsa ini, Ir. Soekarno dan Drs. Mohamad Hatta, adalah dua aktivis yang berpengaruh pada masanya. Keduanya tidak hanya dikenal luas sebagai orator (jago berpidato, singa podium), tetapi juga kampium dalam menulis.
Buku penuh inspirasi yang berjudul Indonesia Menggugat merupakan kumpulan tulisan Soekarno yang berisi tentang gugatan terhadap pemerintahan kolonial Belanda yang pada akhirnya membuat Ratu Wilhelmina di Belanda mengurangi masa hukumannya.
Selama masih kuliah di Belanda, Mohamad Hatta aktif menulis di berbagai media masa. Bahkan selama masa pengasingannya di Digul, Hatta masih sempat menulis pada media masa. Aktivis yang lainnya juga begitu, seperti Sultan Syahrir, Mohamad Natsir, K.H. Dewantara, dan Pramodya ananta Toer.
Tulisan-tulisan mereka mampu mampu membangkitkan semangat patriotik dan nasionalisme rakyat Indonesia. Para aktivis yang menulis ini telah mengukir sejarah bangsa dan negara Indonesia ini.
Mengapa aktivis mahasiswa dituntut untuk menulis? Viktor Silaen melalui opininya yang berjudul “Jurus Menulis dan Mengelola Media Komunitas” dalam Seri Pendidikan Media, Komunikasi dam Kebudayaan, menyatakan menulis itu ibarat investasi baik secara spiritual, mental, maupun materil. Selain bermanfaat untuk diri sendiri, menulis juga memberikan banyak hal yang bersifat mencerahkan, mencerdaskan; menghibur orang banyak.
Dalam konteks pendidikan perguruan tinggi, keterampilan menulis selayaknya dimiliki oleh setiap aktivis mahasiswa. Budaya menulis merupakan nilai utama dalam budaya akademik. Budaya akademik seyogyanya dimiliki oleh setiap komunitas di perguruan tinggi, termasuk mahasiswa.
Mahasiswa yang menamakan diri sebagai kaum akademisi, agen perubahan, pengontrol masalah sosial, dan politik sebaiknya menuangkan kritik dalam tulisan. Mengapa? Menulis merupakan bentuk pembuktian eksistensi seorang aktivis. Menulis itu menjadi ajang pembuktian intelektulitas, apakah otak sang aktivis berisi atau tidak, jangan sampai hanya tong kosong berbunyi nyaring.
Pentingnya menulis bagi seorang aktivis, antara lain pertama, sebagai panduan dalam berbicara, berorasi. Sejumlah prinsip penting dalam menulis adalah mengedepankan kelogisan berpikir, berargumentasi berdasarkan fakta, dan jujur mengemukakan pendapat.
Sejumlah prinsip penting ini sangat membantu seorang aktivis dalam mengemukakan pendapat secara lisan, dalam berorasi dan berdebat.
Kedua, membantu meningkatkan kualitas diri aktivis. Dengan menulis kualitas pribadi seorang aktivis akan meningkat. Demikian juga kualitas intelektualnya diasah dan dipertajam. Agar bisa menulis dengan baik seorang aktivis akan belajar banyak, membaca banyak, menguasai bidang ilmu yang ditulisnya. Hal-hal inilah yang berpengaruh kuat dalam meningkatkan kualitas dirinya.
Kualitas intelektual mahasiswa tidak saja diukur dari Indeks prestasi (IP) yang diperolehnya tetapi juga dari kualitas tulisan yang dihasilkannya. Kita senang ada dosen di Perguruan Tinggi yang berani memberi Nilai A mata kuliahnya apabila ada mahasiswa bisa menulis di media masa.
Ketiga, mendapatkan honorarium tulisan dari media masa. Tulisan atau karangan yang telah dipublikasikan di berbagai media masa biasanya akan mendapat imbalan berupa honorarium seperlunya meskipun relatif besarnya. Ini tentu sangat membantu dan membanggakan. Hitung-hitung bisa dipakai untuk menambah beli buku kuliah atau foto kopi tugas-tugas perkuliahan.
Keempat, salah satu bentuk ibadah atau mimbar pencerahan. Sebagai aktivis mahasiswa, tentu kita mempunyai tanggung jawab unutk menyatukan dan mencerdaskan bangsa ini. Dengan menulis seorang aktivis memberikan pencerahan, memberikan kritik sosial dan politik di mana ia menggugat kesewenang-wenang penguasa dan pengusaha yang membuat negara ini terpuruk dihampir semua aspek kehidupan.
Dengan menulis, seorang aktivis mahasiswa akan menjadi garam dan terang menuju kebaikan dan kebenaran yang dijunjung tinggi bersama.*
Penulis adalah Jurnalis Kaddes.net
