Menuju Kemandirian Petani, 4 Kelompok Tani Desa di Sikka Galakkan Restorasi Ekosistem

Menuju Kemandirian Petani, 4 Kelompok Tani Desa di Sikka Galakkan Restorasi Ekosistem

Mengatasi perubahan iklim, menyediakan sumber air, meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani melalui potensi ekonomi (ekowisata), 4 kelompok tani desa di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggalakkan gerakan restorasi ekosistem.

Kegiatan restorasi ekosistem ini didampingi Wahana Tani Mandiri (WTM), salah satu LSM Lokal di Kabupaten Sikka bersama Aliansi Kolibri dan Kaleka Bogor.

“Program restorasi ini selain bertujuan untuk memulihkan hutan dengan melakukan penanaman tanaman yang mengedepankan nilai ekonomi, lingkungan dan sosial budaya juga mendorong kemandirian petani,” ungkap Winfridus Keupung, Direktur WTM.

Win Keupung menjelaskan, program restorasi ekosistem yang di mulai sejak April 2025 ini dipusatkan di empat kelompok tani yang tersebar di dua desa.

Menuju Kemandirian Petani, 4 Kelompok Tani Desa di Sikka Galakkan Restorasi Ekosistem

Dua desa dimaksud, yakni Nuapuu, bersama kelompok tani Bugusupu di kampung Woloboa dan Nirang Sikka di Wolomoto, serta Desa Napugera bersama kelompok tani Taramuri yang ada di kampung Khobeperi dan kelompok tani Ratelena di kampung Woloboa, dengan luas areal mencapai 39 hektar lokasi penanaman tanaman pertanian.

Dalam pelaksanaan kegiatan lanjut Win Keupung, sebanyak 51 petani yang tergabung dalam kelompok tani terlebih dahulu menyiapkan tempat pembibitan di samping rumah masing-masing.

Setelah bibit tumbuh, dilakukan perawatan secara rutin dengan melakukan penyiraman secara teratur, penjarangan.

“Setelah itu, kita (WTM) akan monitoring pembibitan dengan melakukan pengukuran tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun dan pengamatan kesuburan tanaman,” jelas Win Keupung.

Menuju Kemandirian Petani, 4 Kelompok Tani Desa di Sikka Galakkan Restorasi Ekosistem

Dalam Program Restorasi, lebih lanjut win menjelaskan, setiap kelompok tadi disuplai bibit sesuai dgn fungsi masing-masing secara ekonomi lingkungan dan sosial budaya tergantung kebutuhan masing-masing wilayah.

Sehingga, kata Win Keupung, kebutuhan bibit pun berbeda antara Desa Dobo Nuapuu dengan Desa Napugera. Di Dobo Nuapuu ada bibit pala, kakao, durian, advokat, nangka dan pinang. Sedangkan di Napugera bibit Pala, kakao, kelapa, petai, advokat, nangka dan pinang.

*Dan dalam pelaksanaan program Restorasi ekosistem kita awali dengan pembibitan, survey lokasi, pemetaan,persiapan lahan, gali lobang, penanaman dan monitoring tanaman,” katanya.

Saat ini, lanjut Win Keupung, sesuai dengan perencanaan kerja yang telah disepakati bersama, awal musim hujan bulan Desember tahun lalu hingga sekarang, anggota kelompok telah melakukan penanaman tanaman Restorasi baik secara individu maupun kerja gilir bersama anggota kelompok.

“Data kami sampe dengan 31 Januari 2026, 85 persen dari 51 anggota kelompok dampingan, 45 petani telah selesai melakukan penanaman. Sedangkan kalau dilihat dari target awal seluas 7 ha, saat ini sudah 39 ha telah tercapai. Capaian ini sudah jauh melebihi target awal,” paparnya.

Sementara itu, Thomas Didimus, salah satu anggota kelompok Tani Bugusupu, Desa Dobo Nuapu’u mengakui, kehadiran program restorasi ekosistem sangat memberikan manfaat bagi petani yang tergabung dalam kelompok tani dampingan, khusunya dirinya.

Menuju Kemandirian Petani, 4 Kelompok Tani Desa di Sikka Galakkan Restorasi Ekosistem

Betapa tidak, demikian Didi panggilan keseharian, dalam kegiatan restorasi ekosistem, petani tidak saja diberikan anakan tanaman untuk di tanam.

Namun juga didampingi dan diberi pelatihan seperti manajemen kelompok tani, mengenal kondisi alam sekitar, cara mengatasi hama tanaman hingga panen.

“Kami petani merasakan benar manfaatnya. Mulai dari pendampingan awal hingga memanen hasil tanaman. Dan sangat membawa perubahan besar bagi petani dalam peningkatan ekonomi keluarga,” paparnya. *

Penulis: Tata Shinto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *