Kisah Inspiratif Nus Hewen, Petani Sayur Asal Tiwatobi Sukses Dirikan SPPG Keba Baipito

Yustianus Usen Hewen Petani sayur asal desa Tiwatobi, Kecamatan Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur, NTT

Yustianus Usen Hewen (56), petani asal Desa Tiwatobi, Kecamatan Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur, NTT tidak pernah bercita-cita membangun dapur.

Lelaki, yang akrab disapa Nus itu hanyalah seorang petani sayur. Sejak 1998, Ia hidup dari bedengan Sawi, Kangkung, Terung, dan Mentimun di kaki Gunung Ile Mandiri.

Tapi pada 2024, saat mendengar janji kampanye tentang Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh calon Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, pikirannya terusik.

“Saya berpikir, berarti ini apa yang harus kita buat,” kenangnya kepada Kaddes.net di kebun sayur miliknya, pada Rabu 14 Oktober 2026.

Niat awalnya sederhana yakni membangun kandang ayam. Ia ingin menjadi pemasok ayam untuk dapur MBG.

Namun sebuah informasi dari teman di Kupang mengubah segalanya. Ada link pendaftaran untuk membangun dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Ia pun mengukur halaman rumahnya sendiri. Ternyata, luasnya sangat memenuhi syarat. Kandang ayam itu pun ia tinggalkan. Ia putar haluan, membangun dapur.

Perjalanannya tidak mudah. Gambar dapur yang ia buat sendiri ditolak Badan Gizi Nasional (BGN) sampai tiga kali. Hingga akhirnya, di suatu malam Ia menghubungi temannya yang memahami soal gambar bangunan.

Di bawah langit gelap, mereka mengukur halaman bersama. Malam itu juga gambar dikirim dan beberapa hari kemudian dinyatakan diterima.

Rumah Tiga Kamar Disulap Jadi Dapur, Tabungan Sekolah Anak Jadi Modal

Apa yang ada di hadapannya saat itu adalah rumah sederhana: tiga kamar tidur, satu ruang makan, satu ruang keluarga, satu ruang tamu, dan dapur besar di belakang.

Nus meratakannya. Tiga ruang yang terpisah itu ia jebol menjadi satu aula besar untuk ruang persiapan, pengolahan, dan pembersihan.

SPPG Keba Baipito di Desa Tiwatobi, Kecamatan Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur

Pembangunan itu memakan waktu hampir satu tahun penuh. Dari Januari hingga Desember 2025. SK Dapur terbit pada tanggal 9 Januari 2026 di bawah naungan Yayasan Cipta Resiliensi Indonesia dan resmi beroperasi pada tanggal 29 Januari.

Nama dapurnya ia beri ‘SPPG Keba Bai Pito’, merujuk pada nama leluhur orang di Gunung Ile Mandiri.

Membangunnya, Nus tidak mengandalkan bank. Padahal sejak 1998 ia adalah nasabah aktif bank. Pinjaman terakhirnya Rp 114 juta bahkan masih berjalan.

“Terakhir saya mau pinjam tindis 250 juta, katanya tidak bisa karena baru jalan 10 bulan. Saya pakai nama adik-adik juga tidak dilayani. Mungkin aturan bank,” katanya jujur.

Ia pun memutar otak. Uang tabungan pribadi dan tabungan yang disiapkan untuk sekolah anak-anak, sebesar Rp 300 juta, ia bongkar semua.

“Ibu juga semangat mendukung, sehingga uang yang kita siapkan untuk anak sekolah kita putar ke bangun dapur,” ujarnya.

Tidak cukup, ia membuka pintu untuk teman-teman berinvestasi dan meminjam pakai sementara. Total investasi mencapai Rp 1,6 Miliar.

“Dalam hitungan saya dengan teman-teman totalnya jadi satu koma enam miliar,” katanya.

Dari jumlah itu, Rp 600 juta sendiri hanya untuk peralatan dapur seperti rice steamer, kompor, freezer, dan kulkas.

“Semua harus berstandar BGN. Maka dia mahal, apalagi di awal kita belum tahu siapa yang jual,” katanya.

Sempat Diledek Gila

Motivasinya bukan bisnis semata. Jika motivasinya bisnis, Yustinus Usen Hewen sudah berhenti di tengah jalan.

Semuanya ia lewati, dengan satu kalimat yang terus dipegang. Jika bukan kita yang berpikir agar program MBG ini bisa sampai di anak-anak, lalu siapa yang akan melakukannya.

Karyawan SPPG Keba Baipito bekerja dengan APD lengkap mempersiapkan MBG bagi anak-anak sekolah

“Dengan motivasi itu saya berkomitmen untuk mengantarkan APBN dalam bentuk nasi sampai di pintu-pintu sekolah,” ujarnya.

Semangat itu yang membuatnya tahan menghadapi cibiran.

“Ada yang mengatakan sudah gila itu. Tapi saya bilang, yang di atas yang tahu, ini rencana Tuhan. Biarlah, kalau memang tidak jadi ya saya jadikan kos-kosan. Ternyata puji Tuhan diresmikan,” kenangnya sambil tersenyum.

Cibiran Berbuah Harapan

Kini setelah dapur itu berdiri dan beroperasi,  warga sekampung mulai percaya. Suara-suara yang dulu mencibir kini berganti menjadi harapan.

“Saya senang anak-anak di sekitar sini akhirnya bisa kerja di dapur,” ungkapnya.

Baginya, dapur SPPG Keba Bai Pito, bukan sekedar tempat masak, melainkan jaring pengaman ekonomi kampung.

“Sayur juga dapat dibeli dari dapur. Jangan cari dari luar, di sini juga ada petani sawi. Program MBG ini harus untuk masyarakat,” pesannya pada tim dapur.

Dari seorang petani sayur yang pernah dicibir gila, Yustianus Usen Hewen kini telah mengantarkan APBN dalam bentuk sepiring nasi hangat setiap hari, sampai ke depan pintu sekolah anak-anak di kaki Ile Mandiri.*

Penulis: Sutomo Hurint I Editor: Tata Shinto

One thought on “Kisah Inspiratif Nus Hewen, Petani Sayur Asal Tiwatobi Sukses Dirikan SPPG Keba Baipito”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *