Putri Desa Watugong Juara Favorit Lomba Busana Tenun Ikat di Sikka

Lomba busana tradisional tenun ikat meriahkan hari Kartini ke-147 tingkat Kabupaten Sikka digelar di Aula Rumah Jabatan Bupati Kabupaten Sikka, Sabtu 25 April 2026 siang.

Kegiatan ini diikuti 30 orang ibu PKK yang berasal dari sejumlah kelurahan, desa dan Kecamatan yang ada di Kabupaten Sikka.

Dari peserta yang tampil, terlihat seorang remaja putri yang tampil memukau dengan busana tradisional motive Kojawulet dan dihiasi lembaran daun lontar di bagian belakang busana yang dikenakan.

Dia adalah Agustina Tarsiana, seorang remaja putri berusia 15 tahun asal Desa Watu Gong, Kecamatan Alok Timur.

Tarsiana–demikian panggilan akrab— mencuri perhatian para Tim juri karena keunikan dan kepiawaian saat melangkah yang membuat suasana menjadi pusat perhatian pada dirinya.

Atas kepiawaiannya, Tarsia yang kini duduk di bangku SMP Santo Mikael Brai ini akhirnya mendapatkan penghargaan sebagai peserta terfavorit tingkat Desa se Kabupaten Sikka dalam ajang lomba itu.

“Ini pertama kali saya tampil. Dan tak menyangka menjadi peserta favorit dalam ajang ini,” ungkap Tarsiana.

Anak dari pasangan Maria Endang dan Medianto ini mengaku mempersiapkan diri selama seminggu untuk mengikuti lomba busana tenun ikat memperingati hari Kartini Tahun 2026.

“Untuk busana yang saya kenakan ini dirancang sama Bapak Lusianus Aliando dan Mama Theodora Fiskalina dengan mengusung potensi masyarakat kami sebagai petani dan pemasak moke (minuman tradisonal),” ungkapnya.

Sementara itu, Fista Sambuari Kago, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sikka, pada kesempatan tersebut mengatakan, lomba busana tradisional guna melestarikan budaya tenun ikat yang menjadi jati diri masyarakat Kabupaten Sikka.

“Kegiatan ini untuk menjaga nilai budaya kita ditengah modernisasi budaya dan busana yang semakin berkembang saat dewasa ini,” kata Fista.

Ia menuturkan, sebagai generasi muda Kartini, Perempuan harus mampu mengisi ruang publik agar bisa bersuara dan pem perjuangkan hak-hak yang setara dan harus mendapatkan keadilan, apalagi jika mengalami dan menjadi korban kekerasan.

“Ini bagian dari emansipasi wanita. Dimana perempuan mengisi ruang publik dan harus menjadi garda terdepan untuk terus bersuara demi keadilan,” paparnya.

Selain itu, ajang ini merupakan sarana membangun koordinasi dan komunikasi perempuan kabupaten yang tergabung dalam Tim PKK.

Dalam lomba Busana Tenun ini, tampil sebagai juara pertama dari Kelurahan Kota Baru, disusul peserta dari Desa Nita, Kecamatan Nita dan juara tiga peserta dari Kecamatan Tanawawo.*

Penulis: Tata Shinto | Editor: Sutomo Hurint

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *