Ditengah Kemarau Panjang, Pasutri di Napunglangir Raup Cuan dari Budidaya Terong

Pasutri di Napunglangir Raup Cuan dari Budidaya Terong

Cuaca Kampung Napunglangir, Kelurahan Wolomarang, Kabupaten Sikka, NTT, Sabtu, 17 Oktober 2026 sore masih terasa panas. Padahal, jarum jam sudah dipukul 17.20 Wita.

Maklum saat ini NTT, termasuk Pulau Flores tengah dilanda musim kemarau panjang.

Tampak di kejauhan, Demus dan Eta, pasangan suami istri (pasutri) sedang menggembur tanah dan memetik buah terong di halaman rumah.

“Tanaman terong ini baru berusia 1 bulan 3 minggu, tapi kami sudah panen. Ini panen perdana kami,” ucap Demus ketika Kaddes.net, menghampirinya.

Meski sadar betul saat ini Sikka khususnya dan NTT umumnya dilanda kemarau panjang, Demus dan Eta tidak pasrah.

Pasutri di Napunglangir Raup Cuan dari Budidaya Terong

Mereka manfaatkan halaman rumah dengan menanam terong dan lombok. Air untuk menyiram tanaman diperoleh dari air buangan bak penampung PDAM. Selain pupuk organik dan pestisida.

“Memang saat ini musim kemarau panjang, air pun susah sekali. Untuk penyiraman, kami manfaatkan air buangan dari pengisian bak penampungan PDAM,” kata Demus.

“Selain langsung mengirim ke tanaman terong, kami juga buat penampungan sementara dari drum bekas agar tanaman bisa disiram terus,” kisah Demus diamini Eta.

Hasilnya tambah Eta, kini setiap dua hari sekali mereka memanen meski saat ini tengah kemarau.

“Kalau tahun lalu saat musim kemarau saya panen sampai belasan kali sebelum memasuki musim penghujan dan hasilnya sangat membantu perekonomian keluarga,” kata Eta lagi.

Demus dan Eta mengaku, aktivitas mengolah halaman rumah menjadi kebun yang ditanami terong, dan lombok ini lantaran melihat peluang pasar yang menjanjikan ditengah kemarau panjang yang terjadi.

Pasutri di Napunglangir Raup Cuan dari Budidaya Terong

Eta bilang, sekali panen mereka bisa menghasilkan Rp. 200.000 hingga Rp. 500.000, usai menjual ke Pasar Alok.

“Ini panen kami yang ketiga dan biasanya kami turun ke pasar pagi hari dan para pedagang pasar langsung membeli untuk dijual kembali,” papar Eta.

Pasutri, Demus dan Eta tidak pasrah pada kondisi kemarau panjang. Mereka meraup cuan ratusan ribu dari hasil panen terong di halaman rumah. *

Penulis: Tata Shinto I Editor: Sutomo Hurint

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *