Listrik dari pemerintah masih menjadi barang langkah bagi sejumlah wilayah dan desa di tanah air.
Hal itu sungguh dirasakan oleh warga Kampung Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Jurnalis Kaddes.net bersama dua rekan jurnalis di Kabupaten Sikka masuk menelusuri Desa Nenbura pada Selasa, 13 Oktober 2026. Desa Nenbura berada di wilayah Pantai Selatan Sikka.
Saat malam tiba, suasana di Kampung Hepang yang dihuni 160 Kapala Keluarga atau 600 jiwa ini tampak sepi dan gelap gulita. Tampak seperti tidak ada aktivitas warga setempat.
Di salah satu rumah yang sangat sederhana berdinding belahan bambu, tampak cahaya yang menerangi ruang tamu.
Di atas balai bambu rumah milik Yansenus Yansen itu terlihat empat orang anak sedang tekun belajar diterangi lampu pelita.
“Setiap malam, saya dan teman-teman belajar diterangi lampu pelita. Di kampung kami ini, belum ada listrik pak,” ungkap Maria Ayu Ningsih Larasati.

Laras–begitu Maria Ayu Ningsih akrab disapa, siswi kelas 4 SDN Hepang dan tiga temannya saat itu sedang belajar Matematika dan Bahasa Indonesia.
Sementara di bagian dapur, hanya cahaya api dari tungku. Terlihat seorang ibu tengah memasak untuk makan malam keluarga.
Laras menuturkan, setiap malam sebelum tidur, dia menyempatkan diri selama 10 menit untuk belajar dibawah terang lampu pelita agar bisa pintar di kelas.
“Tuliap malam kami tidak bisa belajar lebih dari satu jam, karena tidak ada listrik,” ujarnya.
Laras dan tiga temannya menitipkan pesan untuk Presiden Prabowo agar membantu mendatangkan listrik di kampung.
“Bapak Presiden, tolong bantu untuk bisa mendatangkan listrik di kampung kami, agar saya dan teman-teman di sini bisa belajar lebih baik,” pinta Laras dan tiga temannya.

Yansenus Yansen mengatakan, kondisi gelap gulita tanpa penerangan listrik itu sudah berlangsung selama 81 tahun atau sejak Indonesia merdeka.
“Selama 81 Indonesia merdeka, kami belum menikmati listrik. Kasihan anak-anak kami tidak bisa belajar dengan baik,” kata dia.
Usulan Listrik Sejak 2017
Kerinduan warga Kampung Hepang mendapatkan aliran listrik dari PLN ternyata sudah mulai diusulkan sejak tahun 2017 lalu. Namun belum terealisasi.
Ambrosius, Kepala Urusan Pemberdayaan Masyarakat Desa Nen Bura, ditemui Kaddes.net Selasa malam menuturkan, sejak tahun 2017 lalu hingga saat ini sudah empat kali Pemerintah Desa menyurati pihak PLN Cabang Maumere.
Usulan surat itu disampaikan ke PLN Maumere kata Ambrosius, agar bisa melakukan pemasangan jaringan listrik ke 102 rumah warga di Kampung Hepang.
Bahkan Ambrosius sendiri pernah menemui langsung pihak Manajer PLN Maumere. Namun dia mendapatkan jawab bahwa lokasi Dusun Hepang berjarak lebih dari satu kilometer dari sumber listrik terdekat.
“Beliau manager PLN Maumere katakan lokasi Kampung Hepang jaraknya lebih dari satu kilometer dari sumber listrik terdekat sehingga belum bisa dilakukan pemasangan karena keterbatasan anggaran jadi harus menunggu dana dari APBN,” papar Ambrosius.

Selain menyurati PLN Maumere, lanjut Ambrosius, berbagai usaha terus dilakukan termasuk mengirimkan proposal kepada sejumlah Anggota DPR RI asal Pulau Flores. Namun itu pun belum direspon dengan baik.
“Ada dua Anggota DPR RI yang meminta kami kirimkan proposal, namun sampai saat ini belum menjawab harapan masyarakat kami,” kata Ambrosius.*
Penulis: Tata Shinto I Editor: Sutomo Hurint
