Kisah Petani di NTT Jadi Sopir Traktor Bagi Pelajar Demi Seberangi Sungai ke Sekolah

Donbosco Dhima, Petani Desa Aedoko, Wewaria, Ende

Dari Kejauhan, ditepi sungai Lewolaka yang berwarna coklat, berdiri sejumlah pelajar. Mereka mengenakan seragam kuning coklat sambil melepas sepatu dan hendak melintasi sungai yang merupakan satu-satu akses jalan yang menghubungkan Desa Fataatu Timur dengan Desa Aedoko di pedalaman pulau Flores, tepatnya di Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.

Para pelajar ini merupakan siswa di SMPN Detunggali, SDI Niosanggo, dan PAUD Detunggali yang berasal dari Kampung Nuandale dan Leleloo.

Tak lama kemudian datanglah seorang pria paruh baya sambil mengemudikan traktor yang bisa digunakan sebagai alat membajak sawah ke tepi sungai.

Pria paruh bayah itu adalah Donbosco Dhima, seorang petani yang tinggal Kampung Leleloo RT 01, RW 01, Dusun Wolowuwu.

Dengan penuh semangat pagi, dirinya menyuruh para siswi duduk di bagian dalam traktor agar lebih aman, dan sebagian siswa lainnya terpaksa bergelantungan di bagian luar.

Setelah dalam kondisi aman, Don demikian sapaan akrap petani desa ini, langsung menghidupkan mesin dan melajukan traktor melintasi derasnya arus sungai Lewolaka.

Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, dirinya berhasil menyeberangi Kali Lowolaka dan para pelajar pun langsung melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga tiba di sekolah.

Aksi Don ini, lantaran potret burak minimnya sarana pembangunan desa yang sejak dahulu hingga kini belum memiliki jembatan penghubung  di sungai Lewolaka dan menjadi ancaman keselamatan warga.

“Saya lakukan secara sukarela karena prihatin dengan anak-anak kami di kampung ini yang harus bertaruh nyawa melintasi arus sungai agar bisa ke sekolah,” ungkapnya.

“Jika tidak demikian, setiap musim penghujan seperti saat ini dibarengi dengan meluapnya aliran sungai, maka aktivitas belajar para siswa di sekolah diliburkan sementara waktu,” Lanjut Don mengisahkan.

Menurut dia, sejak puluhan tahun sungai Lewolaka merupakan satu-satunya akses jalan yang tidak memiliki jembatan ini menghubungkan Desa Fataatu Timur dengan Desa Aedoko serta desa tetangga lainnya di Kecamatan Wawaria.

“Sedih memang melihat kondisi ini, tidak saja pelajar, ibu hamil bahkan ibu yang hendak melahirkan pun kadang harus bertaruh nyawa di sungai ini agar bisa mendapatkan pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Kepala Desa Fataatu Timur, Isak Abel Do, mengaku terharu dengan aksi Don dengan traktornya sebagai sarana transportasi melintasi sungai demi pendidikan anak desa yang jauh dari sentuhan dan perhatian.

“Kalau aliran sungai deras, biasanya anak-sekolah ini diantar pakai traktor yang dikemudikan om Don. Dan itu patut kita apresiasi buat pak don seorang petani yang rela meluangkan waktu dan tenaga demi dunia pendidikan anak,” tuturnya. * (Tim Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *