Selama bertahun-tahun, malam di rumah Martha Letek di Kelurahan Sarotari Tengah, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, adalah malam yang benar-benar gelap.
Anak-anak belajar dengan cahaya seadanya. Dapur hanya diterangi lampu tempel. Beraktivitas di malam hari serba terbatas.
Namun, pada Rabu, 23 September 2026, kegelapan itu berakhir. Saklar itu akhirnya ditekan oleh Martha sendiri. Lampu 900 VA menyala. Rumahnya yang dulu gelap, kini terang benderang. Matanya berkaca-kaca.
“Saya sangat senang dan bersyukur. Dulu kami belum punya listrik sendiri, sekarang rumah kami sudah terang. Terima kasih banyak kepada PLN yang sudah membantu keluarga kami,” kata Martha lirih.
Martha bukan satu-satunya. Di gang yang sama, dua keluarga petani yakni Piter Moling Pati dan Yohana Jawa, juga mengalami malam pertama dengan listrik mandiri.
Bagi mereka yang seharian di ladang, listrik bukan soal mewah. Ini soal bisa beristirahat dengan nyaman, anak bisa mengerjakan PR tanpa harus menahan perih mata dan istri bisa menyiapkan makan malam dengan terang.
Cahaya itu datang dari program Light Up The Dream (LUTD) PT PLN (Persero) ULP Larantuka. Sambungan listrik gratis, sebuah gerakan kecil yang maknanya besar.
Manager PLN ULP Larantuka, Yufenalis Irovanto Malar menjelaskan program LUTD ini adalah wujud empati dan kepedulian insan PLN.
“Hari ini, tiga keluarga di Sarotari Tengah telah menikmati listrik mandiri dari Program LUTD,” ujar Yuvenalis.
Lebih jauh, Yuvenalis menjelaskan sambungan listrik gratis dalam program LUTD ini, dananya bukan dari anggaran perusahaan, tapi dari donasi sukarela pegawai PLN sendiri. Patungan dari gaji mereka untuk menyalakan mimpi orang lain.
“Dengan kepedulian ini, kami berharap bantuan ini tidak hanya beri kenyamanan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas keluarga penerima,” harap Yuvenalis.
Songsong Hari Kesaktian Pancasila
Sementara itu, General Manager PLN UIW NTT, F. Eko Sulistyono, mengatakan aksi ini sengaja dilakukan menyongsong Hari Kesaktian Pancasila.
Eko menegaskan bagi PLN, Pancasila bukan hanya upacara dan teks, tapi praktik gotong royong yang nyata. Sebab, Pancasila mengajarkan kita untuk saling peduli dan mengulurkan tangan.
“Melalui Light Up The Dream, insan PLN ingin menyalakan terang sekaligus menumbuhkan harapan baru agar manfaat energi dapat dirasakan secara adil dan merata,” jelas Eko.
Kini, malam di Sarotari Tengah, tiga rumah warga tidak lagi gelap. Dari jendela mereka, cahaya lampu tumpah ke jalan setapak.
Bagi PLN, itu bukan sekadar penerangan. Itu adalah tanda bahwa keadilan sosial benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.
“Sila kelima Pancasila, benar-benar menyala tepat di ruang tamu keluarga Martha, Piter, dan Yohana,” tandas Eko.*
Penulis: Sutomo Hurint I Editor: Tata Shinto
