Memiliki potensi lahan dengan debit air sungai Nangablo yang tinggi, Kepala Desa Tilang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), budidaya tanaman holtikultura.
Sekitar pukul 15.00 WITA, Rabu 15 April 2026, di tepi bantaran sungai Nangablo, Dusun Ribang, Desa Tilang, suasana alam tampak sejuk seiring aliran sungai yang mengalir dengan tenang.
Di sebelah selatan aliran sungai, tampak sejumlah anak muda tengah sibuk menyirami tanaman cabai dengan pupuk cair. Satu persatu batang pohon cabai disirami pupuk.
Ditengah aktivitas anak-anak muda ini, tampak seorang pria paruh bayah mengenakan topi hitam, berbaju putih, celana pendek dan bersepatu bot, sibuk membersihkan rumput yang tumbuh di sekitar pohon cabai.
Dia adalah Rofinus I M Luer, Kepala Desa Tilang, Kecamatan Nita, akrab disapa Tilang One. Selain sebagai seorang nomor satu di Desa Tilang, Rofinus juga merupakan seorang petani muda yang baru 6 tahun terakhir menggeluti dunia pertanian.
“Ini tahun ke-6 saya geluti dunia pertanian. Saya kembangkan tanaman holtikultura,” ungkapnya.
Rofinus mengisahkan awal mula terjun sebagai petani beranjak dari pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu. Dimana kebijakan Pemerintah yang mengharuskan warga beraktivitas dari rumah.

Sebagai orang yang suka beraktivitas, selain sebagai Kepala Desa, ia tidak tinggal diam.
Ia justru mengambil sikap untuk tetap beraktivitas walaupun di kebun, dengan mengolah lahan yang awalnya ditumbuhi ratusan pohon kakao dan kelapa menjadi lahan pertanian holtikultura.
“Secara ekonomis, tanaman kakao juga menghasilkan uang, tapi itu hanya sekali panen, sementara tamanan holtikultura bisa tiga kali panen dalam setahun. Apalagi desa kami miliki sumber air yang tak pernah kering,” ungkapnya mengisahkan awal menjadi petani holtikultura.
Untuk menjadi petani holtikultura, lanjut Rofinus mengisahkan, dirinya mencari Petugas Penyuluh pertanian untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
Dalam perjalanan waktu satu bulan, dirinya mendapatkan ilmu pengetahuan, teknologi dan pendampingan budidaya holtikultura dari Yayasan Bina Tani Sejahtera (BTS).
“Setelah mendapatkan ilmu pengetahuan dari BTS, saya langsung mengolah lahan seluas 3 hektar dengan biaya ratusan juta untuk tanaman holtikultura,” ungkapnya.
Menurut Rofinus, aksi nekat menjadi petani ini juga beranjak dari banyaknya orang muda di desa yang mulai meninggalkan dunia pertanian, sementara di desa memiliki poten yang bagus untuk dikembangkan.
Ia mulai mengajak masyarakat khususnya orang muda untuk bersama-sama menggeluti dan mengembangkan usaha pertanian holtikultura.
“Dan anak-anak muda di sini kita berikan bekal pengetahuan sehingga menciptakan mereka sebagai petani masa depan,” kisahnya.

Selain mengajak untuk menjadi petani milenial, Rofinus mengajarkan anak muda bagaimana mengatur manajemen tani yang baik. Mulai dari biaya yang dikeluarkan hingga pendapatan yang dihasilkan dari panen tanaman holtikultura.
“Manajemen Tani ini penting karena menjadi kalender musim bagi petani sehingga mampu mengelola pertanian dengan baik,” paparnya.
Untung Puluhan Juta
Melihat hasil yang menjanjikan, Rofinus mulai mengembangkan sayap untuk fokus pada dunia pertanian.
Pihaknya mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Tilang One Farm yang menjadi binaan Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kupang dan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka.
Rofinus menjelaskan, kehadiran Tilang One Farn ini guna memberikan ilmu terkait bagaimana Teknik budidaya hortikultura bagi petani muda.
Nantinya setelah satu atau dua tahun mahir, petani muda dimotivasi untuk membuka lahan hortikultura sendiri.
“Setelah memiliki lahan, para petani tetap didampingi dan difasilitasi untuk mendapatkan sarana dan pra sarana pertanian termasuk akses ke pasar dengan harga jual yang layak,” terangnya.
Kini bersama kelompok tani binaannya yang tergabung dalam tilang one farm telah mengembangkan pengelolaan lahan seluas 7,5 hektar sebagai lahan pertanian Holtikultura.
Dari 7,5 hektar, Kades Tilang memaparkan, 4 hektar dikelola dirinya bersama 50 tenaga kerja sementara 3,5 hektar lainya dikelolah kelompok petani muda di desa, dengan menanam cabe kriting, cabai besar, cabe rawit, tomat dan ketimun, buncis, semangka dan bunga kol.
“Jika panennya di bulan Juni nanti saat itu banyak pesta Sambut Baru dan pernikahan maka kebutuhannya akan meningkat. Jenis-jenis tersebut akan laris manis saat bulan-bulan tersebut,” jelasnya.
Ia mencontohkan, untuk budidaya tomat usia panennya 60 hari dan berapa kali panen tergantung perawatan seperti pemupukan, penyiraman, penyemprotan dan lainnya.
Kalau perawatan bagus, maka bisa dipanen sampai dengan 20 kali bahkan lebih sehingga akumulasi total tergantung dari jumlah volume atau tegakan yang ditanam.
“Saya kasih contoh seperti tomat yang kita tanam 7 ribu pohon atau tegakan. Hitunglah saja, maksimal 1 pohon panennya 2 kilogram saja maka akan dihasilkan 14 ton tomat,” terangnya.
Bila harganya anjlok Rp5 ribu per kilogram maka penghasilan kotornya Rp70 juta dan dikurangi biaya produksi dan lainnya Rp30 juta. Dalam waktu 3 sampai 4 bulan didapat keuntungan Rp30 juta sampai Rp40 juta,” tandas Rofinus.*
Penulis: Tata Shinto | Editor: Sutomo Hurint
