Nasib guru hingga kini masih terus berada dalam kegelapan.
Ini dialami Monika Idel Fonsa Lewar (40), guru honorer SDK Kokang, di Desa Ojandetun, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Betapa tidak, kesejahteraan Monika sebagai pelita dalam kegelapan bagi generasi muda bangsa di pelosok selatan Flores Timur sungguh jauh dari harapan.
Setiap bulan, Monika Lewar mendapatkan upah Rp. 700.000,- dari hasil iuran komite. Ini masih jauh dari upah minimum yang ditetapkan pemerintah daerah.
Guna memenuhi kebutuhan keluarga, selepas jam mengajar ia langsung bergegas ke kebun membantu suaminya, Aventinus Benediktus (38)–menyiangi rumput di antara tanaman padi dan jagung yang kian subur.
Monika Lewar berjalan kaki ke kebun sejauh kurang lebih 800 meter dari rumahnya di Desa Ojandetun. Rutin setiap hari.
“Rutinitas saya setelah pulang sekolah selalu ke kebun. Di kebun itu, kami tanam padi dan jagung,” katanya usai menyiangi rumput di kebun, Jumat pekan lalu.
Kebun yang dikerjakan Monika Lewar bersama suami bukan milik mereka. Namun milik Petrus Bapa, salah satu orang tua murid di sekolah tempatnya mengabdi.
“Hasil yang kami tanam untuk makan di rumah. Pemilik kebun tidak minta bagi hasil, kami diberi kesediaan untuk garap,” ungkapnya.
Monika Lewar mengisahkan, sudah 15 tahun mengabdi sebagai guru di sekolah yang berdiri sejak 1 Januari 1971 silam. Sementara Aventinus mengais rejeki dengan berkebun dan pekerja serabutan.
Hasil keringat suami dalam bertani dengan hasil enam karung beras saat panen dimanfaatkan seutuhnya untuk menanggung empat anggota keluarga di rumah mereka yang sederhana, selain dikirim ke putrinya di Maumere.
“Upah honor guru yang kadang minus, saya gunakan untuk biaya pendidikan putri sulung kami di SMAS Bhaktyarsa Maumere, dan juga untuk dua anak yang masih SD,” ungkapnya.
Jika anak banyak tugas sekolah dan biaya tak terduga lainnya, ibu tiga anak itu terpaksa harus meminjam uang ke kerabat.
“Saat uang tidak ada sama sekali, saya minta pengertian dan mohon sedikit waktu. Anak saya paham dengan kondisi kami. Tetapi rejeki itu Tuhan sudah atur, jadi ada saja jalannya,” ucap Monika Lewar.
Menjadi guru honor di SDK Kokang dengan upah rendah, sempat membuatnya berpikir pindah ke sekolah negeri demi sebuah peluang yang lebih terbuka menjadi pengabdi yang dijamin negara.
Namun ia mempunyai dedikasi dan loyalitas yang kuat untuk SDK Kokang. Dia berat hati dan rasa meninggalkan sekolah tua di pelosok selatan yang jauh dari hiruk pikuk keramaian itu.
Sebagai seorang guru honor, Monika Lewar mengaku sangat bahagia melihat senyum anak didiknya di bangku sekolah yang kian termakan rayap.
Banyak anak berhasil ia didik menjadi biarawati, guru, pegawai pemerintah, dan pekerja swasta.
“Anak-anak di sini (SDK Kokang) adalah putra dan putri yang lahir dari kampung sendiri, ada kebahagiaan murni dari dalam hati untuk terus mengabdi,” kata Monika Lewar.
Ditengah aktivitas sebagai petani, Monika Lewar pun mencurahkan isi hati kondisi warga SDK Kokang yang sudah bersahabat dengan ketiadaan signal telekomunikasi hingga saat ini.
“Di desa Kami, sumber jaringan terdekat hanya lewat Kantor Desa Ojandetun. Ketika ramai pengguna, kekuatan signal redup bahkan hilang total,” kisahnya.
Ketiadaan signal ini, papar Monika Lewar, menjadi kendala bagi para siswa khususnya saat kegiatan Asesemen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Sangat terganggu.
“Untuk bisa ikut ANBK, anak-anak harus menempuh perjalanan 3 kilometer ke Desa Hewa agar mendapat jaringan,” paparnya.
Monika Lewar mengaku kondisi signal berangsur membaik saat Dinas Kominfo Flores Timur membantu satu unit wifi untuk SDK Kokang.
Namun kapasitasnya diklaim belum cukup kuat untuk diakses perangkat android terutama 15 chromebook bantuan Pemerintah Pusat.
“Di sini letak kesulitan kami, tetapi kami punya semangat yang besar. Kami biasa ke Hewa, desa tetangga,” ceritanya.
Monika Lewar dan warga sekolah sejatinya punya impian besar terhadap peningkatan sarana prasarana untuk dinikmati 75 siswa, termasuk kesejahteraan bagi 9 tenaga pendidik.
SDK Kokang adalah salah satu dari sekian sekolah di bawah Yayasan Persekolahan Umat Katolik Keuskupan Larantuka (Yapersuktim). Yapersuktim memberikan peran penting dalam urusan legalitas sekolah untuk perjalanan sekolah itu sendiri.
Kepsek SDK Kokang, Yohanes Wato Ipir menyebut Monika Lewar adalah guru yang loyal dan total mengajar. Apresiasi juga ia alamatkan untuk segenap tenaga pendidik di sekolah itu.
“Di sini ada enam tenaga pendidik selain ibu Monika, kemudian tenaga kependidikan ada dua orang,” katanya.
Selain keadilan untuk kesejahteraan guru, siswa dan warga desa di sana juga mengalami ketimpangan jaringan signal. Proses KBM berbasis online tak berjalan maksimal. *
Penulis: Tata Shinto
