Seribu Lilin Solidaritas di Kota Maumere–‘Tolong Cari dan Temukan Pakaian, HP, Rambut dan Tiga Jari Noni’

Seribu Lilin Solidaritas di Kota Maumere.(Foto: kaddes.net/tata Shinto)

Solidaritas atas kematian Noni, siswa SMP MBC Ohe, Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga dibunuh terus mengalir.

Pada Rabu,18 Maret 2026 sore, sepanjang ruas jalan Gajah Mada mulai dari depan Gereja Misir hingga ruas Jalan Mgr. Soegiyopranoto dipenuhi ratusan anggota Pencak Silat dari perguruan THS/THM bersama ratusan warga.

Sepanjang perjalanan mereka memanjatkan Doa Rosario diiringi lagu-lagu rohani yang lazim dalam tradisi agama Katolik.

Mereka berjalan kaki sejauh 2 kilometer dan berakhir di Taman Doa Kristus Raja yang berada di jantung Kota Maumere. Mereka melakukan aksi solidaritas seribu lilin dan mawar untuk Noni.

Noni dengan nama lengkap Stevania Trisanti Noni, korban pembunuhan sadis yang diduga dilakukan FRG, seorang remaja putra berusia 16 tahun yang tak lain merupakan kakak kelasnya di SMP MBC Ohe.

Seribu Lilin Solidaritas di Kota Maumere.(Foto: kaddes.net/tata Shinto)

Noni ditemukan tidak bernyawa dengan kondisi mengenaskan di pinggiran Kali Napun Koja Gelo, Dusun Woloklereng pada 23 Februari 2026 lalu.

Isak tangis di depan foto putri semata wayang

Isak tangis tak terbendung saat Yohana Maria Nona, ibu kandung Noni didampingi kedua putra dan Suami datang bersujud di depan foto sang putri semata wayang yang berada di kaki Arca Yesus Kristus Sang Raja.

“Noni, Noni, kenapa tidak menyahut mama lagi nak,” ucap Yohana sambil menangis histeris depan foto sang anak.

Ibu korban dengan suara lantang lalu berkata: “Tuhan, kenapa Noni pergi meninggalkan keluarga dengan cara yang sangat mengenaskan”.

“Tuhan e, kenapa harus Noni yang Kau ambil, kenapa bukan saya, Tuhan ampunilah kami,” teriak Yohana.

Seribu Lilin Solidaritas di Kota Maumere.(Foto: kaddes.net/tata Shinto)

Saat bersamaan, Herman Yosep, ayah Noni tidak kuasa menahan kesedihan. Dia memeluk foto anaknya sambil menangis usai menyimpan setangkai bunga mawar.

Tiga jari Noni bersama rambut dan pakaian belum ditemukan

Di tengah aksi solidaritas seribu lilin yang digelar simpatisan Noni ini, ada kerinduan keluarga agar polisi bisa mengungkap kasus kematian secara terang benderang.

Pasalnya, pasca jasad korban ditemukan pada 23 Februari 2026 lalu, hingga kini masih ada barang-barang yang ada pada tubuh Noni belum ditemukan

Barang milik Noni tersebut adalah pakaian yang dikenakan saat berpamitan mengambil gitar di rumah pelaku, hp, dan juga rambut serta tiga jari yang terpotong saat kejadian pembunuhan.

Seribu Lilin Solidaritas di Kota Maumere.(Foto: kaddes.net/tata Shinto)

“Polisi jangan duduk diam. Tolong cari dan temukan pakaian, hp, rambut dan tiga jari Noni yang hingga kini belum ditemukan,” pinta Fabianus, salah satu keluarga Noni disela aksi.

Keluarga kata Fabi, meminta agar aparat penyidik Polres Sikka segera menangkap pelaku lain yang telah diperiksa sebagai saksi sebelumnya.

Ia menuturkan, keluarga menduga kuat, pelaku utama pembunuhan Noni bukan lah FRG, namun ada orang lain yang menjadi pelaku utama sekaligus dalang atas pembunuhan berencana terhadap ade Noni.

“Masa anak usia 16 tahun bisa bunuh secara sadis begini. Ini mustahil. Pasti ada orang lain yang terlibat dan menjadi otak dibalik semua ini,” ujarnya.

Jika Polres Sikka tidak mampu, tegas Fabi, sebaiknya mundur saja. Biarkan aparat dari Mabes Polri mengambilalih penyelidikan kasus kematian yang dialami Noni. *

Penulis: Tata Shinto I Editor: Sutomo Hurint

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *