Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah kini ditunggu-tunggu oleh siswa-siswi di Kecamatan Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur, NTT. Program MBG menjadi penyemangat anak-anak untuk bersekolah.
Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Oka, Juan Nanggo Liwun merupakan salah satu peserta didik yang sangat antusias menerima program MBG.
“Masakannya enak sekali. Ada daging, sayur, dan buah. Pokoknya lengkap,” katanya.
Tak sekedar lezat dan bergizi, siswa kelas VII SLTP Negeri 2 Oka ini mengaku, program MBG membuat dirinya bisa menabung dari uang jajan yang diberikan orang tuanya.
“Di sekolah sudah siapkan makan jadi uang jajan bisa disimpan,” celoteh Juan.
Bahan yang berkualitas dengan kontrol ketat
Makanan bergizi yang dinikmati Juan dan teman-temannya, disiapkan melalui proses panjang dan teliti oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Keba Baipito. SPPG ini beralamat di jalan Soekarno-Hatta, Desa Tiwatobi, Kecamatan Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur, NTT.
Setiap hari, SPPG ini melayani 18 titik sekolah meliputi 8 sekolah tingkat TK/KOBER dan 10 sekolah tingkat SD hingga SMA/SMK dengan total 1.522 penerima manfaat.
Ignasius Satrio Muda Makin (Tri), Kepala SPPG Keba Baipito menjelaskan, penyediaan ribuan porsi makanan bergizi merupakan operasi logistik dan kuliner yang berjalan hampir 24 jam sehari.
Satrio menjelaskan proses pengolahan MBG melewati beberapa tahap yakni persiapan, pengolahan, pemorsian, dan distribusi. Operasi ini melibatkan koordinasi antara Tim Gizi dan Akuntan dalam setiap proses tahapannya.
“Dalam tiap tahapannya ini melibatkan kontrol yang ketat oleh tim gizi dan akuntan, mulai dari persiapan hingga distribusi,” tegas Satrio.
Satrio menjelaskan setiap bahan baku yang masuk ke dapur melalui proses pemeriksaan dua pintu yakni pemeriksaan kuantitas oleh tim akuntan untuk memastikan jumlah sesuai pesanan dan pemeriksaan kualitas bahan baku oleh Tim Gizi.
“Pembelanjaan bahan baku basah seperti ayam dan ikan dilakukan setiap hari tidak bisa distok. Bahan baku yang bisa distok adalah bahan baku kering seperti beras, bumbu, dan minyak. Kalaupun, ada yang tersisa sudah disimpan dalam tempat dengan temperature suhu yang sesuai,” ungkap Satrio.
Satrio menambahkan dalam proses pengolahan hingga menu makan siap saji diawali perhitungan cermat oleh ahli gizi. Mulai dari kandungan protein, serat, karbohidrat, vitamin, hingga mineral dipastikan terdapat pada menu yang disajikan.
Satrio menegaskan seluruh karyawan dalam bekerja wajib menaati Standar Operasional Prosedur (SOP). Mulai dari cuci tangan sebelum masuk keruangan dapur hingga penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).
“Kita terapkan SOP cuci tangan. Barang-barang karyawan disimpan di loket. Para karyawan wajib menggunakan APD sesuai divisi mereka masing-masing. SOP itu penting demi menjaga mutu makanan,” ungkap Satrio.
Penyerapan Tenaga Kerja Lokal
Satrio mengatakan hadirnya Dapur Keba Baipito program MBG ini berhasil menyerap tenaga kerja lokal. Dapur ini memiliki 50 orang tenaga kerja yeng terdiri dari Kepala Dapur, Akuntan, dan ahli gizi.
Sedangkan, 47 orang lainnya adalah tenaga kerja relawan yang direkrut dari warga yang ada di sekitar Kec. Ile Mandiri.
“Ada orang muda, mama, dan bapa-bapa juga. Mereka masuk di divisi pengolahan, divisi persiapan bahan baku, tim masak, dan divisi distribusi serta kebersihan dan keamanan. Itu semua direkrut dari Masyarakat yang ada di sekitar sini,” ungkap Satrio.
Mohamad Syaiful Dawan (23), salah satu orang muda asal Delang mengaku sejak masuk bekerja di Dapur Keba Baipito Ia merasa secercah harapan.
Muhamad sendiri, dulunya 2 tahun hidup menganggur. Setiap harinya Ia bekerja sebagai pekerja serabutan. Kondisi finansialnya tidak stabil.
“Hasil nelayan itu tidak semacam dulu. Sekarang ini karena perubahan iklim cuaca tidak menentu. Hasilnya juga tidak pasti. Tapi sekarang, kalau kerja disini setiap bulan saya punya kepastian penghasilan tiap bulan,” tutur Muhamad.
Muhamad mengaku pola hidupnya mulai berubah sejak bekerja sebagai Sekuriti di Dapur Keba Baipito. Hidupnya, mulai terpola dengan bangun pagi karena Pukul: 08.00 pagi, Ia harus sudah absen di Dapur.
“Sekarang seperti sudah ada harapan hidup. Jadi, mulai disiplinkan diri. Segala aktivitas sudah di atur waktunya agar tidak mengganggu kerja di dapur,” ungkap Muhamad. * (Tim Redaksi)
