Kehadiran Sekolah Rakyat yang menjadi program Presiden Prabowo Subianto, sangat dinantikan masyarakat Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Data Dinas Sosial Kabupaten Sikka tahun 2026, berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTesen) menyebutkan sebanyak 10.873 anak kini belum mengenyam pendidikan yang layak, mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.
Demikian dikatakan Penjabat Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sikka, Kristian Amstrong, kepada Kaddes.net, saat ditemui di ruang Kerja, Rabu 3 Juni 2026.
Ia menjelaskan dari 10.873 anak yang belum mendapatkan pendidikan yang layak ini terdiri atas 2.924 anak yang belum pernah sekolah, sedangkan anak yang tidak lulus melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi termasuk drop out 7.949 anak.
“Yang paling banyak di Sikka ini adalah anak-anak yang lulus tapi tidak bisa melanjutkan pendidikan dan juga drop out,” jelas Amstrong
Menurut dia, tingginya angka putus sekolah ini disingkrinisasi dengan DTesen dan juga data Dinas Pendidikan hingga bulan Juni untuk dilakukan Asesmen agar bisa melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat milik Pemerintah.
“Kita akan melakukan pendekatan baik itu kepada keluarga maupun anak yang bersangkutan agar bisa kembali mengenyam pendidikan,” paparnya.
Untuk itu, lanjut Amstrong, kehadiran Sekolah Rakyat sangat menjadi harapan besar pemerintah daerah dan masyarakat untuk menjawab dan meningkatkan kwalitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang disiapkan di lembaga pendidikan Sekolah Rakyat.
Tinggal Tunggu SK Mensos
Menindaklanjuti kehadiran Sekolah Rakyat, Pemerintah Kabupaten Sikka tinggal menunggu Surat Keputusan Menteri Sosial.
Pembangunan Sekolah Rakyat pun dipusatkan di Desa Egon, Kecamatan Waigete dengan kapasitas 1.000 siswa mulai dari siswa SD hingga SMA dengan luas lahan 5,29 hektare.
“Seluruh persyaratan teknis dan administrasi sudah kita lengkapi dan tinggal menunggu SK Mensos terkait dengan kehadiran Sekolah Rakyat di Sikka,” jelas Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago.
Kehadiran Sekolah Rakyat, kata Bupati Sikka, secara khusus menyasar anak-anak dari keluarga miskin ekstrim, terutama yang berada pada desil 1 dan 2.
“Kita berharap dengan kehadiran Sekolah Rakyat bisa menjawab kerinduan anak-anak yang perekonomian orang tua masuk kategori miskin ekstrim bisa melanjutkan pendidikan,” harapnya.*
Penulis: Tata Shinto | Editor: Sutomo Hurint
