Siprianus Ata Wolo (32), warga Dusun Waitiu, Desa Bantala, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil meraup jutaan rupiah dari usaha bisnis pisang kepok.
Pemuda yang akrab disapa Sipo ini sudah setahun ini berbisnis pisang. Sebelumnya Ia adalah pekerja serabutan sebagai buruh di pertokoan dan ngojek.
Sipo menceritakan, ketertarikannya berbisnis pisang bermula ketika Ia bekerja sebagai buruh pedagang pisang asal Maumere.
“Cerita pedagang pisang dari Maumere, mereka selalu untung. Untung capai jutaan rupiah. Jadi, saya juga tertarik untuk bisnis pisang,” kisah Sipo kepada Kaddes.net, Sabtu, 24 Januari 2026.
Tak seperti yang lain memulai bisnis dengan modal yang besar. Awal mula Sipo berbisnis pisang hanya bermodalkan uang Rp. 5 Juta, berasal dari uang simpanan selama kerja serabutan.
Sipo membeli pisang dari petani secara gelondongan. Satu tandan pisang dibeli dengan harga Rp. 50 hingga Rp. 75 ribu. Harga ini disesuaikan dengan jumlah sisir dan kualitas buah.
“Paling rendah itu Rp. 25 ribu dan Rp. 30 ribu. Kalau jumlah sisirnya banyak dan buahnya bagus, kita beli dengan Rp. 75 ribu per tandan,” ujar Sipo.
Sipo menuturkan pasokan pisang yang diperoleh berasal dari petani pisang di Desa Bantala dan beberapa desa sekitarnya. Biasanya, Ia langsung membelinya di kebun-kebun warga.
“Warga di sini sudah tahu kalau saya beli pisang. Jadi, saya biasanya ditelpon oleh petani untuk ambil di kebun. Kadang-kadang mereka sendiri antar pisangnya ke rumah,” tutur Sipo.
Sipo mengaku Ia sudah memiliki langganannya sendiri. Pisang yang dibeli tidak Ia antarkan ke Maumere. Tiap minggunya, para pedagang dari Maumere datang mengambil pisang yang dibelinya.
“Seminggu itu dua kali pedagang dari Maumere datang ambil. Sekali ambil itu, hitung-hitung selisih keuntungan itu kurang lebih Rp. 500 hingga Rp. 750 ribu. Kalau, seminggu dua kali, bisa sejutaan,” ungkap Sipo.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kabupaten Flores Timur, Siprianus Sina Ritan mengatakan bisnis pisang kapok menjadi salah satu usaha bisnis yang potensial. Pasalnya, saat pisang di wilayah Flores bagian Barat terserang hama.
“Wilayah Ende, di sekitar Maurole, Mukusaki dan Maumere hingga Wolowiro banyak pisang yang terserang hama. Jadi, kebutuhan pisang dari kedua wilayah ini dipasok dari Larantuka,” ungkap Sipri.
Sipri menjelaskan secara normal ditengah permintaan pasar yang sedang naik, harga pisang di Flotim antara Rp. 50 hingga Rp. 60 ribu per tandan.
Ia mengaku pihaknya tetap memantau harga di lapangan agar para petani pisang di Flores Timur dapat menikmati keuntungan dari harga pisang yang saat ini tengah naik.
“Harga pisang R10 ribu rupiah. Satu kilo itu sama dengan satu sisir jadi harga Rp. 50 hingga Rp. 60 ribu per tandan itu harga normal,” ungkap Sipri.
“Harga pisang saat ini tengah naik. Kita berharap para pedagang tetap membeli dengan harga pasar agar para petani kita juga menikmati keuntungannya,” imbuh Sipri. (Tim Redaksi).
