Jumad, 3 Juli 2026, jurnalis Kaddes.net kembali melakukan investigasi dugaan pembabatan ratusan pohon Manggorove di wilayah Pantai Baka, area persawahan Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dari narasumber yang enggan disebutkan namanya menceritakan bahwa diantara tahun 2022 atau 2023, dirinya dimintai oleh pemilik lahan memotong kayu api untuk masak garam.
“Waktu, saya masuk itu ada sisa-sisa bakau sudah mati, sudah kering, maka saya cincang itu buat bapak Berna Deornai buat masak garam,” ungkap narasumber yang juga merupakan tukang sensor asal Kecamatan Titehena ini.
Ia menuturkan saat itu, dirinya melihat lokasi tersebut telah dibersihkan. Dimana, kata dia pepohonan yang berada di lahan itu sudah ditebang dan dibakar untuk persiapan membuat kolam, pengembangan peternakan ayam petelur milik pengusaha Sang Surya.
“Waktu itu, pohon bakau sudah ada yang tumbang. Itu bekas potongan sensor. Entah oknum siapa yang tebang, saya tidak tau. Pada saat saya masuk itu, orang sudah bakar semua. Orang tinggal bersihkan untuk buat kolam,” ungkapnya.
Ia mengaku pohon Manggrove yang dipotong kala itu terdiri dari beberapa tunggul, 2 batang dan ranting pohon Manggorove yang sudah ditebang.
Ia menuturkan jumlah potongan pohon Manggorove yang dipenggal hampir mencapai muatan 1 mobil pikap.
“Ranting-rantingnya itu sudah dipenggal, sudah dibakar semua jadi, kurang lebih satu oto itu, tidak juga penuh. Kalau potongan bulat itu, kurang lebih sekitar dua pohon saja. Itukan, sudah bekas bakar. Jadi yang kering-kering itu yang kita ambil itu untuk dia buat garam,” ungkap dia.
Saat, media ini mengkonfirmasi siapa oknum tukang sensor yang menebang pohon Mangrove di wilayah pengembangan peternakan ayam petelur baik sebelum dan sesudah tahun 2023 itu, dirinya mengaku tidak mengenal para tukang sensor tersebut.
“Siapa-siapa yang tebang, saya tidak tau. Kurang lebih dua jam e, kita potong, Lalu, kita pulang,” katanya.
Hingga saat ini Bernad Deornai, yang diketahui sebagai pemilik lahan, pengembangan usaha peternakan ayam petelur belum berhasil dikonfirmasi oleh media Kaddes.net.
Pesan, WhatsApp yang dikirimkan media ini pada Senin, 6 Juli 2026 pada pukul,18:17 Wita belum dijawab. Pesan terkonfirmasi masih centang satu alias belum aktif.
Menolak Bertemu dan Diwawancarai Wartawan
Sementara itu, Aji Abdullah, Pengusaha Ayam Petelur yang dikonfirmasi melalui WhatsApp, pada Senin, 6 Juli 2026 sore, pukul, 18:26 Wita mengatakan dirinya tidak berkenan meluangkan waktu untuk bertemu langsung ataupun diwawancarai terkait dugaan pemotongan pohon mangrove.
“Terkait isu yang sedang diinvestigasi oleh tim Kaddes.net, bukan berada di lokasi milik kami, untuk lebih lanjutnya sepenuhnya merupakan kewenangan pihak instansi terkait yang berwenang memberikan keterangan resmi,” tulis Aji dalam pesan WhatsApp.
Ia mempersilakan media merilis informasi berdasarkan data dan hasil investigasi independen yang sudah didapatkan.
Ia berdalih tidak melakukan pemotongan pohon Manggrove dan mempersilahkan media untuk mengkonfirmasi hal tersebut pada Dinas Lingkungan Hidup.
“Kami tidak merasa melakukan hal tersebut, silakan saja investigasi kepada dinas lingkungan hidup karena beberapa waktu lalu dari instansi tersebut sudah melakukan investigasi kembali dan tidak terbukti, lebih lanjutnya silakan saja ke dinas terkait,” jelas Aji.
Dugaan Pembabatan Ratusan Pohon Manggrove
Sebelumnya, Yohanes Pehan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Lewolaga, kepada wartawan mengatakan kegiatan alih fungsi lahan untuk pengembangan usaha dengan mengorbankan ratusan pohon Bakau telah berlangsung sejak tahun 2013.
Yohanes mengatakan pihaknya telah melaporkan aktivitas pengerusakan hutan Manggorove tersebut kepada pemerintah, namun hingga saat ini pemerintah belum memberikan respon tegas.
“Aktivitas di bawah itu, sudah masuk dalam areal bakau. Terlihat bakau sudah dipotong. Saya hitung pohonnya sudah ratusan. Jadi, berharap pemerintah dapat memperhatikan hal ini,” kata Yohanes.
Yohanes yang juga salah satu pegiat lingkungan ini mengatakan kegiatan usaha peternakan ayam petelur telah mengorbankan fungsi ekologis wilayah pesisir pantai yang sangat serius.
Menurutnya, aktivitas alih fungsi lahan hutan Manggorove dapat menimbulkan ancaman serius seperti abrasi, intrusi air laut, hilangnya habitat biota laut, serta kerentanan ancaman terhadap lokasi persawahan Konga bila terjadi gelombang tinggi dan tsunami.
Ia berharap agar Pemerintah Daerah Flores Timur segera menyikapinya secara serius demi menjaga ekosistem pesisir dari kegiatan pengembangan usaha atas alih fungsi hutan bakau yang sedang terjadi di kawasan pantai Baka saat ini.
“Jadi, kalau itu tidak ditangani jadi contoh untuk masyarakat. Bahwa Aji, dia bisa tebang bakau, sementara kita? Atau memang istimewa orang yang punya duit,” tandas Yohanes.
Sementara di tempat terpisah, Aji Abdulah pemilik usaha peternakan ayam petelur kepada wartawan menjelaskan lahan usaha peternakan ayam petelur miliknya seluas 10 hektar tidak masuk dalam kawasan hutan bakau.
Aji menyebut kegiatan usaha peternakan di seputaran persawahan Konga seluas kurang lebih 10 hektar itu, tidak merusak hutan bakau. Satu batang pohon Bakau tidak pernah dipotong dalam kegiatan pengembangan usaha peternakan ayam petelur miliknya.
Ia mengatakan informasi yang disampaikan kepada media adalah bentuk ketidakpuasan terhadap dirinya. Dirinya, merasa terzolimi atas informasi itu.
“Jelas, saya terzolimi. Itu fitnah bagi saya,” tegas Aji.
Pantauan wartawan di lokasi pengembangan usaha ayam petelur milik pengusaha Sang Surya di Persawahan Konga, ditemukan banyak sisah potongan pohon bakau yang tergeletak. Ada pula ditemukan pohon bakau yang telah mati karena dipotong.
Sementara itu, garis pantai pada sisi Timur dan Barat telah berubah. Di mana, garis pantai tidak lagi membentuk garis lurus pesisir hutan bakau, karena sebagiannya telah ditebang.*
Penulis: Sutomo Hurint I Editor: Tata Shinto
