Pesan Damai Presiden Prabowo Kala Resmikan Rumah Korban Konflik di Adonara: ‘Apa yang Sudah Terjadi, Biarkan Berlalu’

Warga perwakilan kedua desa yang berkonflik foto bersama Kepala BNPB

“Apa yang sudah terjadi, biarlah berlalu. Yang penting ke depan kita bangun keluarga, lingkungan, masyarakat, bangsa, dan negara agar semakin maju dan sejahtera,” begitu pesan damai dari Presiden Prabowo Subianto kepada warga desa Bugalima dan Ilepati di Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Pesan Prabowo ini disampaikan melalui Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., saat meresmikan Rumah Layak Huni (RLH) dan Sumur Bor yang dibangun sebagai bagian dari penanganan darurat pasca konflik sosial antar kedua desa pada Kamis 16 Juli 2026.

Dalam sambutannya, Suharyanto mengatakan bahwa bantuan pembangunan RLH, Sumur Bor dan perbaikan Akses Jalan untuk kedua desa yang berkonflik, merupakan berkat arahan dari Presiden Prabowo Subianto.

Ia menjelaskan bahwa konflik sosial sejatinya bukan ranah BNPB karena lembaga ini fokus pada bencana alam maupun non-alam. Namun, kerusakan rumah dan infrastruktur akibat bentrokan membuat BNPB turun tangan.

“Atas arahan Presiden Prabowo Subianto.  Kalau kita tidak ikut membantu, masalah bisa berlarut-larut,” sebut Suharyanto.

Meneruskan pesan damai dari Presiden Prabowo Subianto, Ia mengatakan bantuan pemerintah pusat tidak hanya dimaknai sebagai pembangunan fisik, melainkan bentuk perhatian pemerintah untuk menjaga kerukunan.

“Bapak presiden berpesan agar kita tidak lagi terjebak dalam konflik lama. Yang penting ke depan kita bangun keluarga, lingkungan, masyarakat, bangsa, dan negara agar semakin maju dan sejahtera,” ungkapnya.

Suasana acara peresmian terasa hangat. Warga yang hadir menyambut dengan penuh harapan, mengingat konflik yang sempat mengguncang kehidupan mereka beberapa tahun lalu. 

Bentuk Penanganan Konflik Pemerintah Pusat

Sejak pecah konflik kedua desa pada Oktober 2024 lalu, pemerintah pusat memberikan intensi khusus untuk penanganan darurat dan penyelesaian konflik kedua desa.

Suharyanto mengisahkan sejak 2025, BNPB sudah beberapa kali hadir di Adonara Barat sejak awal 2025. Ia sendiri, sudah tiga kali hadir ditengah masyarakat berkonflik.

Kehadirannya pertama, Ia mengadakan rapat bersama aparatur desa, tokoh masyarakat dan lembaga masyarakat adat untuk mencari jalan tengah. 

“Salah satu solusi yang disepakati adalah membangun kembali rumah warga yang terbakar di Desa Bugalima, serta memperbaiki jalan rusak di Desa Ilepati, ” tutur Suharyanto.

Kehadirannya kedua, untuk memastikan bahwa bantuan pembangunan RLH, perbaikan jalan dan sumur bor, telah dijalankan.

“Untuk jalan kita sudah bangun sepanjang 10 kilo menuju desa Ilepati. Semua sudah di hotmix dan sudah selesai semua,” katanya.

Sementara itu, untuk bantuan RLH bagi warga yang terkena dampak konflik sosial ini sebanyak 52 rumah.

“Kali ketiga, hari ini saya meresmikan rumah layak huni bagi korban konflik sosial ini. Kita patut bersyukur, bahwa semua sudah selesai dibangun,” tutur Suharyanto.

Ia menjelaskan terkait sumur bor, semula direncanakan masing-masing desa mendapat dua sumur.

Namun dalam prosesnya, tim teknis di lapangan tidak menemukan titik air di Desa Ilepati.

“Tidak menemukan titik air bukan berarti bantuan dihentikan. Kalau nanti ditemukan sumber air atau bisa dialirkan lewat pipanisasi, tentu akan kita dukung,” ungkap Suharyanto.

Ia mengatakan beberapa titik memang sulit dibor hingga kedalaman 200 meter, namun solusi lain tetap dilakukan.

“Seperti pipanisasi dari sumber air yang tidak pernah kering bisa menjadi alternatif,” jelasnya.

Sempat Batal

Suharyanto menuturkan rencana peresmian sebenarnya sudah dijadwalkan bertepatan dengan perayaan Natal 2025.

Namun, bencana banjir bandang yang melanda tiga wilayah provinsi di Pulau Sumatera, pada November 2025 lalu.

Hal ini membuat seluruh jajaran BNPB fokus di lapangan hampir dua bulan penuh dan berakibat, tertundanya peresmian di Flores Timur hingga pertengahan 2026 ini.  

“Kami mohon maaf, karena saat itu semua tenaga terserap untuk penanganan di Sumatera,” kata Suharyanto.  

Mengakhiri sambutannya, Suharyanto kembali menegaskan pesan dari Presiden Prabowo Subianto, agar warga kedua desa menjaga persaudaraan agar pembangunan berjalan tanpa hambatan.

“Apa yang sudah terjadi, biarlah berlalu. Yang penting ke depan kita bangun keluarga, lingkungan, masyarakat, bangsa, dan negara agar semakin maju dan sejahtera,” tutup Suharyanto.*

Penulis: Sutomo Hurint I Editor: Tata Shinto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *