Palue, pulau kecil di bagian Utara Pulau Flores, di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) tak hanya terisolasi infrastruktur jalan. Pulau Palue juga menyimpan persoalan dasar air bersih.
Ribuan warga penghuni Palue selama ini mengalami kesulitan mendapatkan air bersih di pulau, tempat Gunung Api Rokatenda berdiri tegak ini. Tak ada sungai–Hanya sumur air payau.
Seperti disaksikan Kaddes.net selama beberapa hari berada di Pulau Palue memantau langsung pascagempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Pulau Flores, warga benar-benar kesulitan mendapatkan air bersih.
Warga yang saat ini umumnya mengungsi di tenda darurat baik dibangun secara mandiri maupun dibangun pemerintah praksis mengkonsumsi air mineral dalam kemasan.

Begitu pula sebelum diguncang gempa dahsyat. Warga Palue konsumsi air hujan yang ditada atau ditampung di bak penampung pada musim hujan. Ada air sumur rasa payau, tetapi hanya di Desa Maluriwu.
Pascagempa, semua bak penampung di rumah-rumah warga umumnya pecah dan bahkan ada yang ambruk.
“Bak penampung air hujan di rumah kami pecah akibat gempa baru-baru ini. Bak penampung itu terbuat dari semen untuk menada air hujan saat musim hujan,” ungkap sejumlah warga Palue.
Suling Air dari Uap Panas Bumi
Pemandangan yang sedikit menyentak terlihat di Desa Kesokoja. Warga yang mengungsi mandiri akibat gempa susulan yang masih mengguncang berbondong-bondong ke bukit Edo. Bukit ini diketinggian seribu meter diatas permukaan laut.

“Untuk bisa dapat 20 liter air bersih dari penyulingan uap panas bumi butuh waktu 24 jam. Biasanya kami suling pagi dan besok pagi kami datang ambil hasil sulingan,” ungkap Maria Yovince Meti, warga Dusun Edo ditemui di sela-sela menyuling uap panas bumi.
Sebagian besar warga dua dusun di Desa Keso Koja setiap hari membawa jergen, ember dan penampung air lainnya. Warga menyuling air dari uap panas bumi menggunakan bambu. Air tersebut mereka gunakan untuk masak dan minum.
Selain masak dan minum, air hasil suling uap panas bumi ini bisa menyembuhkan penyakit seperti batuk-pilek.
“Air untuk masak dan minum pak. Selama ini kami suling uap panas bumi,” kata Maria Meti lagi.
Maria Meti tidak sendirian. Di sekitarnya ada belasan warga dari dua dusun di Desa Kesokoja tampak menyuling dan ada pula yang mengambil hasil sulingan.
Maria Yovince Meti dan warga lainnya tentu berharap. Ada perhatian serius dan inovasi lain yang bisa dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi air bersih di Pulau Palue. *
Penulis: Tata Shinto I Editor: Sutomo Hurint
