Di Pusara Anak, Ibu Korban Pembunuhan Tulis Surat untuk Presiden Prabowo–‘Masih Adakah Hukum dan Keadilan Buat Saya’

Kasih seorang Ibu tak pernah pudar sebagai bukti tanggung jawab terhadap anak yang menjadi buah cinta yang dititipkan sang Khalik kepadanya bersama sang suami. 

Demikian dijalani Maria Yohana Nona, dari Kampung Romanduru, RT 07 RW 04, Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. 

Yohana yang sering disapa mama Jawa ini merupakan ibu dari Stevania Trisakti Noni alias Noni yang menjadi korban pembunuhan sadis yang dilakukan Rofin, kakak kelasnya secara mengenaskan dan ditemukan di pinggiran kali Napun Koja Gelo, Dusun Woloklereng pada 23 Februari 2026 lalu. 

Perjuangan untuk mendapatkan keadilan terus ia lakukan walaupun pengadilan telah memutuskan vonis 10 tahun penjara bagi Rovin. 

Di atas pusara sang putri semana sayang, Yohana menuliskan sepucuk surat secara terbuka untuk Presiden Prabowo Subianto. 

Dalam surat yang ditulis tangan ini, ia mengungkapkan isi hati atas penderitaan batin sebagai seorang ibu terhadap kasus kematian yang dialami anaknya yang berusia 14 tahun ini. 

Pasalnya, sejak kasus ditangani pihak Kepolisian Resort Sikka hingga berujung di Pengadilan Negeri Maumere, belum ada keadilan yang didapatinya. 

Diatas Pusara Anak, Ibu Korban Tulis Surat Untuk Presiden Prabowo dengan keadilan atas kematian anak yang dibunuh secara sadis

“Mohon perhatian Bapak Presiden atas peristiwa pembunuhan kejam atas diri anak saya Stevania Trisakti Noni. Saya Sebagai mama korban sangat berharap untuk mendapatkan keadilan hukum bagi putri saya karena saya merasa terlalu banyak Kejanggalan yang terjadi dalam kasus anak saya,” ungkap Yohana yang dituangkan dalam surat untuk Presiden Prabowo. 

Dalam surat tertanggal 7 Juli 2026 bermetarai Rp. 10.000, ini, Yohana mengungkapkan, hingga saat ini dalam tahapan rencana sidang tuntutan atas dua terdakwa lain yang juga terlibat dalam kasus kematian anaknya, pihak Polres Sikka tidak mampu menemukan barang bukti lain berupa pakaian, HP, jari dan rambut milik korban. 

“Yang lebih menyakiti dari Pihak Kepolisian, juga tidak adanya sidik jari pada barang bukti yang ditemukan berupa parang, gitar dan sandal jepit di lokasi korban ditemukan,” ungkapnya dalam tulisan tangan. 

Saat persidangan, papar Yohana lewat goresan tangan, para pelaku yakni Rofin, maupun SG dan FN selalu ayah dan kakeknya pelaku memberikan keterangan yang berbelit-belit dan enggan mengakui perbuatan secara sadis terhadap anaknya. 

“Apakan saya miskin atau saya bodoh ataukah hukum hanya berlaku bagi pelaku kejam? Saya minta Bapak Presiden melihat Penderitaan. Bapa tolong bantu saya untuk mendapatkan keadilan,”tanyanya dalam tulisan sambil memohon perhatian Presiden Prabowo. 

Ia pun berharap, dengan surat yang ditulis di atas pusara sang anak ini, Presiden Prabowo bisa menghadirkan alat deteksi kebohongan para pelaku serta alat untuk melacak keberadaan HP anaknya yang merekam percakapan antara pelaku dan korban, agar anaknya bisa tenang dalam keabadian. 

“Saya sangat lemah dalam menghadapi kasus Pembunuhan keji ini. Apakah masih ada hukum untuk saya?” tanya mengakhiri tulisan surat untuk Presiden Prabowo.*

Penulis: Tata Shinto | Editor: Sutomo Hurint

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *