IpeKB Sikka Bedah MCK di Desa Langir

Wujud nyata Gerakan Nasional Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), Ikatan Penyuluh Kelurga Berencana (IpeKB) Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/ BKKBN Kabupaten Sikka, melakukan aksi Bedah MCK di Dusun Weko, Desa Langir, Kecamatan Kangae, di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. 

Aksi Bedah MCK ini dilakukan di rumah Laurensius Eon, salah satu warga miskin dengan kondisi rumah yang sangat memprihatinkan dan juga tidak memiliki MCK. 

Aksi sosial para Penyuluh KB ini bermula ketika adanya kegiatan Rembug Stunting yang digelar di Kantor Desa Langir dengan memaparkan data ada sejumlah rumah tangga miskin yang belum memiliki MCK dan perlu mendapatkan penanganan. 

“Dari data Rembug stunting yang ada kita melakukan survei awal ke rumah bapak Lorens. Dan benar kita temukan di lapangan bahwa lokasi rumah sangat memprihatinkan selain kondisi rumah yang tembus pandang dari luar, juga tidak memiliki MCK dengan baik serta penampungan air yang tidak bersih,” papar Bertina Viktoria, Penyuluh KB Kecamatan Kangae, kepada Kaddes.net, Senin 27 Juli 2026 pagi. 

Usai survei awal, kata Bertina Viktoria dirinya pun melakukan koordinasi dengan pemerintah Desa agar bisa mencari solusi untuk mengatasi kondisi yang dialami warga desa tersebut. Namun akibat efisiensi anggaran desa maka tidak ada alokasi anggaran untuk membedah MCK warga. 

“Saya lalu berkoordinasi lagi dengan Penyuluh KB seKabupaten Sikka dan dari data yang saya paparkan, kami sepakat untuk membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi Bapak Lorens,” paparnya. 

Alhasil, lanjut Mantan Penyuluh Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Mapitara ini, IpeKB pun melakukan pengadaan material MCK, sembako dan mengumpulkan pakaian layak pakai untuk diserahkan ke warga yang menjadi sasaran pembangunan MCK yang diserahkan langsung oleh Ketua IpeKB cabang Sikka Elbert Selong Parera bersama Sekretaris Camat Kangae dan Kepala Desa Langir. 

“Bantuan itu telah kita serahkan tanggal 23 Juli kemarin dan kini tengah dalam pengerjaan,” terangnya. 

Menurut Bety, dalam keseharian Laurensius hidup sangat sederhana. Dengan pendapatan dibawah upah UMR sebagai tenaga pemilah hasil bumi di toko pembeli hasil Bumi, selain menghidupi istri dan dua orang anak yang masih kecil juga harus memperhatikan orang tuanya yang sudah lanjut usia. 

Sementara itu, Laurensius Eon kepada kaddes.net dengan mata berkaca-kaca mengucapkan banyak terima kasih untuk para Penyuluh yang telah memberikan bantuan. 

“Bantuan ini sangat berarti bagi kami sekeluarga. Semoga Bapak Ibu sekalian selalu diberkati Tuhan,” ucapnya.*

Penulis: Tata Shinto | Editor: Sutomo Hurint

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *