Sikka merupakan salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan kawasan lahan kritis yang cukup luas dan biasanya menjadi lokasi pertanian lahan kering oleh para petani.
Salah satunya di Dusun Liri Kelan, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita dengan wilayah perbukitan yang hanya berjarak 2 kilometer dari pinggiran kota Maumere.
Di atas perbukitan dengan luas 8,5 hektare, Simeon Nago seorang petani berusia 57 tahun menanam aneka tanaman pertanian umur pendek seperti padi, jagung,kacang-kacangan dan juga buncis.
Pertanian yang ditanamnya mendapatkan perhatian serius dari Wakil Bupati Sikka Simon Subandi Supriyadi dengan datang memanen sebagai bentuk dukungan.
Saat panen di kebun milik Simeon, Wakil Bupati Simon Subandi mendorong agar petani bisa memanfaatkan lahan kritis menjadi lahan yang produktif yang dapat memberikan penghasilan.

“Hari salah satu contoh yang baik bagaimana petani memanfaatkan lahan kritis menjadi lokasi produktif walaupun hasilnya belum maksimal,” ungkap Simon Subandi saat panen pekan lalu.
Dia menjelaskan, dengan kondisi panen yang ada, menjadi catatan penting bagi pemerintah melalui Dinas Pertanian untuk terus memotivasi petani dengan meningkatkan ilmu pengetahuan bagaimana cara mengolah lahan kritis mulai dari masa tanam, pemupukan hingga panen.
“Salah satu kendala pertanian di lahan kritis adalah kesulitan air. Ini menjadi masukan bagi pemerintah untuk terus memberikan pendampingan bagi petani,” paparnya.
Ia menuturkan, jika managemen pertanian lahan kritis dikuasi para petani dengan dampingan Penyuluh pertanian, maka petani akan makmur dan sejahterah.
Sementara itu, Simeon di sela aktivitas panen bersama orang nomor dua di kabupaten Sikka mengakui kesulitan air menjadi kendala dalam mengelolah lahan kritis seperti yang ada di dusun Liri Kelan.

“Kami kesulitan air di sini. Sehingga hasil panen pun kurang maksimal,” ungkap Simeon.
Dirinya mengaku bersyukur hasil panen saat ini dapat mendukung ketahanan pangan terutama bagi kebutuhan keluarga.
“Tanaman-tanaman ini saya tanam untuk ketahanan pangan keluarga,” ungkap Simeon.*
Penulis: Tata Shinto | Editor: Sutomo Hurint
