Cerita Bocah di Desa Terong, Dari Bencana Erupsi Lewotobi Hingga Guncangan Gempa Bumi Pulau Adonara

Pasca diguncang gempa 4,7 Skala rigter, aktivitas gempa susulan masih terus terjadi hingga Minggu 12 April 2026 di Adonara Timur dan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di Dusun 1 Desa Terong, Kecamatan Adonara Timur, misalnya, di setiap depan rumah warga berdiri satu tenda darurat. 

Tenda tersebut menjadi tempat beristirahat para menghuni rumah, akibat gempa susulan yang terus terjadi.

Di salah satu tenda berterpal biru, tampak seorang anak yang mengenakan baju biru laut, tengah menyapu lantai tenda. 

Bocah perempuan berusia 12 tahun ini adalah Sania Hokeng, anak pertama dari pasangan suami istri Emiliana Kumanireng dan Ophyn Hokeng. 

Sania bersama adiknya Nadin yang berusia 5 tahun dan kedua orang tuanya, juga merupakan warga terdampak guncangan gempa bumi. 

Rumah kontrakan orang tuanya retak akibat gempa. Dan memaksa mereka harus bertahan di tenda pengungsian. 

“Kami punya rumah yang bapa kontrak, rusak om, sebagian dinding retak dan di kamar ada tembok yang ambruk,” ungkap Sania usai membersihkan tenda darurat. 

Sania menuturkan, dirinya bersama sang mama dan adiknya pindah ke Desa Terong lantaran mengikuti bapanya yang mendapat tugas sebagai seorang guru di SDN Terong setelah lulus PPPK. 

“Sebelumnya, kami tinggal di Huntara Desa Konga, Kecamatan Titehena karena erupsi gunung Lewotobi Laki-laki,” tuturnya. 

Alami Trauma

Secara psikologi, Sania bersama adiknya masih terguncang. Trauma kedua bocah ini belum pulih setelah mengalami bencana letusan eksplosif Gunung Lewotobi Laki-laki 3 November 2024. 

Kini harus mengalami bencana gempa bumi yang hingga kini masih terus berlanjut dengan adanya gempa susulan. 

“Waktu erupsi Lewotobi laki-laki, Sonia masih duduk di kelas VI SDK Klatanlo,” ungkap Emilia Kumanireng, Ibunda Sonia. 

Emilia pun mengisahkan, belum setahun tinggal di Desa Terong, namun kembali mengalami sejumlah bencana. 

Dari erupsi gunung dengan 9 korban jiwa, kemudian banjir dan gempa di Desa Terong yang merusaki 200 rumah dan puluhan korban luka.

“Saat gempa Rabu, 8 April malam. Sania dan adiknya Nadin terlelap di kamar belakang. Tembok rumah runtuh. Bapaknya langsung masuk gendong mereka dua,” ucapnya mengisahkan.

Dampak Gempa: 1.393 Jiwa mengungsi, 367 Rumah Rusak

Dampak gempa Bumi 4,7 Magnitudo dengan pusat gempa di antara pulau Adonara dan Pulau Solor membawa duka bagi masyarakat 12 desa tersebar di Kecamatan Adonara Timur dan Kecamatan Solor Timur. 

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Flores Timur merekam, sebanyak 1.393 warga menjadi korban terdampak gempa bumi. Dan 367 rumah dan fasilitas umum mengalami kerusakan. 

“Per tanggal 12 April 2026, sebanyak 403 Kepala Rumah Tangga dengan jumlah jiwa sebanyak 1.393 jiwa menjadi warga terdampak gempa bumi,” kata Sekretaris BPBD Flores Timur, Ariston Kolot Ola.

Ia merincikan, untuk Kecamatan adonara Timur dampak gempa bumi diami warga 8 desa, yakni Desa Lamahala Jaya, Terong, Kelurahan Waiwerang Kota, Desa Karing Lamalouk, Dawataa, Ipi Ebang, Bilal dan Desa Waiburak, sebanyak 1. 537 Jiwa. 

Sementara di Kecamatan Solor Timur tersebar di lima desa, yakni Desa Moton Wutun, Watobuku, Labelan, Tanah Werang dan Desa Wato Hari sebanyak 402 jiwa. 

“Dampak terparah terjadi di Desa Terong dengan jumlah jiwa mencapai 761 jiwa dengan rumah rusak sebanyak 110 unit,” paparnya.*

Penulis: Tata Shinto | Editor: Sutomo Hurint

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *