Pengungsi korban gempa bumi di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) membutuhkan Emergency Medical Team (EMT) agar dapat melayani warga yang tinggal di posko-posko mandiri.
Pasalnya, pasca gempa berkekuatan 4,5 magnitudo pada Rabu, 8 April 2026 hingga saat ini gempa susulan terus terjadi sehingga warga terdampak yang tinggal di posko mandiri mulai mengalami stress dan trauma.
Salah satunya adalah Rahimah Kadir warga Dusun I, DesaTerong. Saat kaddes.net, mengunjungi posko mandiri yang ditempati keluarganya, raut wajahnya tampak sedih dan penuh kepasrahan menjaga ibunya Siti Saidah (70) lansia yang menderita stroke.
Rahimah menuturkan gempa susulan terus terjadi membuat dirinya berada dalam posisi dilematis mau mengantarkan Ibunya yang sedang sakit ke rumah sakit atau menjaga anak-anaknya di posko mandiri.
“Dari kemarin tim medis suruh kami untuk antar mama ke IGD tapi saya tidak bisa antar mama ke IGD. Kami tidak berani bawa mama ke IGD, sementara kami tinggalkan anak-anak sendirian disini sementara gempa terus terjadi,” ungkap Rahimah.
Rahimah meminta Pemerintah Kabupaten Flores Timur membangun Posko Kesehatan agar dapat melayani warga yang tinggal di tenda-tenda pengungsian mandiri.
“Kalau bisa itu tim medis yang kesini lah. Kan ambulance lalu lalang terus di jalan itu, coba kalau kesini bawa dengan obat atau alat untuk periksa,” tutur Rahimah penuh harap.
Pantauan, kaddes.net pada Sabtu, 11 April 2026 malam, warga tetap bertahan di tenda pengungsian mandiri. Mereka tetap bertahan dari cuaca yang berubah-ubah dan angin laut, dengan perlengkapan tidur seadanya. Beratapkan terpal dan beralaskan tikar.
Sementara, harapan warga terdampak akan adanya Emergency Medical Team (EMT) atau Tim Medis Bergerak yang memeriksa kesehatan warga di posko mandiri, hanya tinggal sebuah harapan karena posko kesehatan belum didirikan oleh Pemerintah Kabupaten Flores Timur.
Makin Banyak Rumah Warga Retak dan Roboh
Hingga kini, Sabtu, 11 April 2026 gempa susulan terus guncang wilayah Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak Rabu, 8 April hingga Sabtu, 11 April 2026, terhitung sudah terjadi 144 kali gempa mengguncang wilayah tersebut.
Data yang dirilis pada laman resmi X-Twitter Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa kembali terjadi pada pukul, 19:42 WIB, kekuatan gempa 2,9 magnitudo. Titik episenter gempa bumi terletak di 8.45 LS, 123.15 BT atau 25 km Tenggara Larantuka dengan kedalaman 5 km.
Gempa susulan yang tak henti-hentinya ini menimbulkan semakin banyak bangunan rumah warga yang rubuh.
“Rumah saya pada gempa yang pertama, hanya slot atas rumah saja yang runtuh. Semua masih dalam kondisi baik, namun gempa yang terjadi, Kamis kemarin, tembok dapur belakang rumah roboh,” tutur Hasan.
Hasan mengatakan saat ini dirinya bersama keluarga tidur di posko mandiri, lantaran tembok rumahnya kian banyak mengalami keretakan.
“Kita mau tinggal di dalam tapi tembok rumah sudah banyak yang retak. Berbahaya, kalau gempa susulan lagi, tembok yang retak bisa runtuh, kasihan anak-anak,” tutup Hasan. *
Penulis: Tata Shinto I Editor: Sutomo Hurint
