Siang itu, Kamis 14 Februari 2026, dibawah terik matahari disertai rintik hujan, sekolompok anak di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), sibuk menanam anakan mangrove di pesisir Pantai Namodoi.
Tawa kecil sekelompok anak kecil yang mengenyam pendidikan di MIS Al-Fatah Muhammadiyah Nangahale dan MTs Al-Fatah Muhammadiyah Nangahale ini terpancar diraut wajah mereka setiap kali berhasil menancapkan satu batang bibit pohon mangrove ke dalam lumpur.
Mereka tidak sendirian, ada para guru, Kepala Desa, TNI, Polri, Kejaksaan, instansi terkait, Bulog Maumere, KPUD Sikka, dan sejumlah wartawan yang bertugas di Sikka ambil bagian dalam penanaman mangrove.
“Kami senang dilibatkan dalam kegiatan menanam mangrove bersama bapak-bapak wartawan. Biar masuk lumpur tetapi dapat ilmu baru,” kata Alif, salah satu siswa MIS Al-Fatah Muhammadiyah Nangahale ditengah kesibukan menanam mangrove.

Kepada Kaddes.net, dirinya mengaku meski baru pertama kali terlibat dalam penanaman mangrove, dirinya mengakui ada manfaat yang didapatinya.
Tidak saja mendapatkan pelajaran tentang bagaiman cara menanam mangrove dengan baik, namun juga mengetahui manfaat dari menanam mangrove itu sendiri.
“Semoga tanaman mangrove atau bakau ini bisa cepat tumbuh sehingga menjadi pelindung kami dari ancaman abrasi yang sering terjadi di desa kami,” paparnya.
Ditengah canda tawa dirinya bersama teman-temannya berharap agar pencegahan abrasi tidak saja dilakukan dengan penanaman mangrove.
Namun ada edukasi lebih jauh yang harus dilakukan agar pemukiman mereka tidak lagi menjadi ancaman gelombang pasang maupun abrasi setiap tahun.
Kepala Sekolah MTs Al-Fatah Nangahale, mengapresiasi aksi menanam mangrove yang digagas oleh AWAS dengan melibatkan peserta didik.

Aksi ini sebagai upaya edukasi menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini. “Kalau sejak kecil mereka menanam, mereka akan menjaga. Kami ingin mereka merasa memiliki pesisir ini,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Nangahale, Sahanudin yang terlibat langsung dalam aksi itu mengatakan, menanam mangrove untuk menjaga lingkungan pesisir namun juga memberikan perlindungan biota laut dan jika dikelolah dengan baik, akan menjadi destinasi wisata.
“Wilayah pesisir Desa Nangahale dalam beberapa tahun terakhir sering mengalami abrasi kurang lebih 500 meter.”
“Akibatnya, selain pemukiman warga terancam, juga ada dua lembaga pendidikan yang terancam abrasi, yakni, MTS Al-Fatah Muhammadiyah Nangahale dan MIS Al-Fatah Muhammadiyah Nangahale menjadi rusak,” terang Sahanudin.*
Penulis: Tata Shinto
