Air Mata di Pusara STN di Rubit–Adik Pamit Ambil Gitar dan Pergi untuk Selamanya

Kematian STN, gadis berusia 14 tahun yang jasadnya ditemukan di kawasan kali Napun Koja Gelo, Dusun Woloklereng, Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama sang kakak.

Pada Rabu, 25 Februari 2026, sekitar pukul 14.00 WITA, saya bersama tiga rekan wartawan mendatangi rumah almarhum STN di Dusun Romanduru, RT 07 RW 04, Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang.

Saat tiba di rumah duka, cuaca berubah mendung disertai gerimis. Dari depan pintu rumah kami pun diterima seorang pemuda. Dengan penuh ramah dia mempersilahkan kami masuk ke dalam rumah mereka.

Pemuda itu bernama Inosensius Frankin Mula (25). Dia adalah kakak sulung dari STN, gadis kecil yang pergi meninggalkan keluarga dan ditemukan dalam kondisi meninggal, Senin, 23 Februari 2026 lalu.

Ditengah keramahtamahan keluarga yang menyambut kami, terlihat seorang mama. Ia berselubung kain sarung di kepala di atas tempat tidur yang biasanya digunakan putri semata wayangnya sebelum meninggal.

Air Mata di Pusara STN di Rubit–Adik Pamit Ambil Gitar dan Pergi untuk Selamanya

Ia tertunduk diam. Tatapan matanya kosong. Hanya air mata yang mengalir lepas ketika kami menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan sebagai pekerja media.

Setengah jam di rumah duka, kami bersama Inosensius berjalan ke arah timur melihat pusara STN, anak ketiga dari pasangan Herman Yoseph dan Maria Yohana Nona.

Setibanya di pusara STN yang lahir pada 6 November 2011, Inosensius menyalakan sejumlah lilin–sambil menatap wajah adiknya yang terpampang di banner ungkapan dukacita kerabat di dekat pusara.

Inosensius mengisahkan kenangan saat bersama sang adik yang menjadi teman bermain, belajar musik dan bernyanyi sambil memetik gitar.

“Kalau ade Noni, dia ini bukan karena sudah tidak ada baru kita omong kebaikannya, tapi saya adalah kaka yang paling dekat dengan dia. Saya punya adik ini sangat baik, sangat penurut dan ceria sekali,” ungkap ino.

Adik Noni, demikian panggilan manis sang adik, lanjut Inosensius, setiap hari dia dan adiknya bersama kedua orang tua selalu saling senda gurau.

“Sebagai seorang anak dan adik, Noni ini juga selalu melawan. Tapi tidak pernah melampaui batas,” tutur Inosensius dengan suara terbata berusaha manahan air mata sambil menundukkan kepala.

Inosensius mengisahkan, “Di sekolah, adik saya juga merupakan salah satu pelajar kelas VIII SMP MBC Ohe yang berprestasi dan menjadi sosok gitaris andalan bagi teman sekelas.”

Air Mata di Pusara STN di Rubit–Adik Pamit Ambil Gitar dan Pergi untuk Selamanya

“Saya yang mengajarinya bermain gitar. Saya pula yang belikan gitar saat ulang tahun Noni, dari uang pertama yang saya dapatkan dari pekerjaan,” kisahnya penuh lesu seolah tak percaya dengan apa yang dialami sang adik.

Kata Inosensius, hari itu, adiknya pamit dari rumah untuk pergi mengambil gitar miliknya yang dipinjam kakak kelasnya. Lalu pergi selamanya dengan kondisi sangat tragis–ditemukan meninggal 4 hari kemudian.

Di pusara sang adik, Inosensius meminta kepolisian mengungkap misteri kematian adiknya dan memberi hukuman setimpal.

“Semua kami serahkan ke pak polisi untuk mengusut tuntas kejadian terhadap adik saya. Dan juga memberikan hukuman yang seadilnya terhadap para pelaku,” pintanya.

Kami bersama Inosensius kembali ke rumah duka. Beristirahat sejenak, bersenda gurau menghibur keluarga duka, sambil menanti hujan redah agar kami kembali ke Kota Maumere. *

Penulis: Tata Shinto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *