Aktivitas erupsi gunung Ile Lewotolok di Pulau Lembata, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kembali terjadi pada Kamis, 26 Februari 2026.
Badan Geologi pos pengamatan gunung Ile Lewotolok melaporkan, pada pukul 19:30 Wita kembali mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu teramati ± 250 m di atas puncak (± 1.673 m di atas permukaan laut).
Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 21.2 mm dan durasi ± 33 detik.
“Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas sedang hingga tebal condong ke arah timur,” kata Stanislaus Arakian, petugas pemantau gunung Ile Lewotolok pada Kamis, 26 Februari 2026, malam.
Stanis menjelaskan selain mengeluarkan abu vulkanik, gunung dengan ketinggian 1.455 meter dari permukaan laut ini melontarkan material pijar sejauh kurang lebih 300 meter ke arah Tenggara dari pusat erupsi.
“Gunung masih berstatus waspada. Masyarakat di sekitar maupun pengunjung dan wisatawan agar tidak memasuki dan tidak melakukan aktivitas di dalam wilayah radius dua kilo meter dari pusat aktivitas erupsi,” imbau Stanis.
Badan geologi pun merekomendasikan agar warga mewaspadai potensi ancaman bahaya guguran atau longsoran lava dan awan panas.
” Khususnya pada sektor Selatan dan Tenggara, Barat, serta sektor Timur Laut,” tutup Stanis.*
Penulis: Tata Shinto
