Kehadiran Jembatan Merah Putih yang program Presiden Prabowo Subiyato, menjadi kerinduan bagi 1.200 jiwa dengan 297 kepala keluarga warga Desa Fataatu Timur, Kecamatan Wewaria di pedalaman Kabupaten Ende, Propinsi Nusa Tenggara Timur.
Betapa tidak, setiap musim penghujan yang disertai banjir deras di sungai Lewolaka menjadi ancaman ribuan warga desa tersebut.
Meski dihantui ancaman, warga mulai dari bayi, balita, pelajar, orang dewasa, lanjut usia hingga ibu hamil, terpaksa nekat menerobos derasnya arus banjir.
Seperti yang terjadi pertengahan Januari 2026 ini, seorang ibu hamil dibantu beberapa warga harus bertaruh nyawa melintasi arus sungai Lewolaka. Tidak hanya, sejumlah pelajar dari kampung Leleloo dan kampung Aesi yang menempuh pendidikan di SD dan SMP pun tak luput dari risiko.
Agar bisa mengikuti pelajaran di sekolah, para pelajar mereka kerap melepas sepatu agar tidak basah saat menyeberangi sungai. Dan tak jarang, anak-anak harus dibantu orang tua atau warga setempat.

Sungai Lowolaka ini menjadi satu-satunya akses jalan harus dilintasi warga saat hendak melakukan aktivitas menuju Kota Ende, Pasar Weloamosa, Kecamatan Ropa, pusat pemerintahan kabupaten dan kecamatan, gereja, pusat kegiatan budaya, hingga fasilitas pendidikan dan kesehatan.
“Kalau tidak hujan ya aman. Tapi kalau hujan, pasti selalu banjir dan itu membuat ibu hamil, anak-anak, balita dan pelajar mau tidak mau harus bertaruh nyawa di derasnya sungai, karena tidak ada jalan lain,” ungkap Isak Abel Do, Kepala Desa Fataatu Timur kepada Kaddes. net pekan lalu.
Kepala Desa Fataatu Timur pun mengisahkan pengalamannya pada tahun 2016 saat harus membawa seorang ibu hamil yang hendak melahirkan ke Puskesmas Weloamosa, yang berjarak lebih dari 10 kilometer dari Desa Fataatu Timur.
Saat itu, Kali Lowolaka sedang banjir dan mobil kecil tidak mampu menembus arus. Ia terpaksa menggunakan mobil truk untuk mengangkut ibu hamil tersebut dan nekat menerobos banjir.
“Bahkan ada ibu hamil yang harus digendong menyeberangi kali saat musim hujan. Ada juga warga Desa Aendoko yang sakit dan dirujuk ke puskesmas pada malam hari, terpaksa digotong ke seberang kali sebelum dibawa mobil,” tuturnya.

Isak menjelaskan, walaupun terdapat jalur alternatif, berupa jalan rabat beton yang dibangun menggunakan dana desa pada tahun 2018, jalur tersebut tidak menjadi solusi efektif, lantaran jarak tempuhnya mencapai sekitar empat jam perjalanan, sementara melewati Kali Lowolaka hanya memakan waktu sekitar 10 menit.
“Kami pemerintah desa telah berupaya menyuarakan persoalan ini melalui Musrenbang tingkat kecamatan dan kabupaten, serta melalui pemberitaan sejumlah media, namun pembangunan jembatan penghubung belum juga terealisasi,” ujarnya. * (Tim Redaksi).
