Mimpi aneka sayuran tumbuh di halaman kosong menjadi kenyataan bagi petani di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Di belakang bak penampungan air sumur bor milik Wair Puan terhampar hijau aneka sayuran seperti sawi, kangkung, bayang, jagung manis, pepaya dan cabai merah di bedeng di atas tanah seluas 20×25 meter.
Dari kejauhan seorang pria tengah memanen sayur sawi dari salah satu bedeng tanaman untuk kedua kalinya dalam seminggu terakhir, di halaman kosong milik tetangga.
Pria paruh baya itu adalah Beni Pongo, warga Dusun Baterang, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur.
“Ini mimpi saya agar hujannya sayuran menghiasi halaman karena sangat membantu ekonomi keluarga,” ungkap Beni Pongo saat didatangi Kaddes.net, Selasa 21 Juli 2026 siang.
Ia menuturkan, aktivitas pertanian dengan aneka tanaman holtikultura ini berawal dari melihat banyak tanah kosong yang tidak ditanami warga serta terbuangnya pasokan air dari buangan sumur bor yang juga tidak dimanfaatkan secara baik.

“Dari pada tanah dibiarkan kosong dan air juga dibuang begitu saja, lebih baik saya manfaatkan agar bisa menghasilkan uang,” paparnya.
Menurut dia, saat ini dirinya telah memanen dua kali tanaman sayur yang ia tanam sejak Mei lalu. Dan hasilnya pun dapat membantu meningkatkan pendapatan keluarga.
Untuk kangkung, papar Beni, dari hasil panen mendapatkan uang sebesar Rp. 400.000 hingga Rp.500.000. Sementara untuk Sawi menghasilkan uang sebesar Rp. 1.000.000 sekali panen.
“Lumayan hasilnya bisa membantu kebutuhan keluarga, apalagi di tengah ekonomi yang agak sulit seperti saat ini,” tuturnya.
Untuk memanen sayuran dengan kualitas baik, kata Beni menjelaskan, selain menggunakan air buangan sumur bor Wair Puan, juga menggunakan dedaunan dan rerumputan di sekitar halaman rumah dan juga sekam padi dan kotoran ayam sebagai sumber pupuk organik.
“Merawat tanaman itu ibarat menjaga panti asuhan. Jadi harus diberi pasokan nutrisi yang baik dengan memanfaatkan alam sekitar agar tumbuh subur,” terangnya.
Selain di halaman milik tetangga, kini Beni Pongo pun tengah menyiapkan dua lahan milik tetangga lainnya untuk dikelolah bersama kelompok tani yang tergabung dalam Komunitas Umat Basis setempat sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat.
“Jangan malu menjadi Petani, karena apa yang kita tanam kita akan menuai hasilnya walaupun badan harus kotor saat bertani,” pintanya.
Tak cuma itu, Beni pun memanfaatkan halaman rumah dengan menanam tanaman kemangi, sereh dan juga pepaya.*
Penulis: Tata Shinto I Editor: Sutomo Hurint
