Tiga Hari Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi 20 Kali Letusan, Badan Geologi: Ada Suplai Magma dari Kedalaman

Aktivitas vulkanik gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mengalami peningkatan dalam tiga hari ini yang ditandai dengan adanya erupsi. 

Data Badan geologi Pos Pengamatan gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera, Flores Timur, terekam sejak tanggal 4 Juni 2026 pada pukul 10.34 Wita hingga 6 Juni 2026 pukul 13.12 wita, gunung dengan ketinggian 1.584 meter dari permukaan laut ini mengalami 20 kali letusan. 

Saat erupsi yang disertai gemuruh lemah ini, gunung melontarkan material berupa abu vulkanis dengan ketinggian 800 hingga 2,5 kilometer ke arah barat dan barat daya. 

Erupsi yang terjadi berlangsung selama kurang lebih 1 menit hingga 3 menit dengan kekuatan amplitudo maksimal mencapai 11 mm hingga 44,4 mm. 

Akibatnya sejumlah desa di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Sikka mengalami hujan abu. Bahkan aktivitas penerbangan di Bandara Frans Seda Maumere, di Kabupaten Sikka pun dibatalkan. 

Ada Suplai Magma

Peningkatan aktivitas erupsi gunung Lewotobi Laki-laki membuat Badan Geologi pun terus melakukan monitoring dan evaluasi. 

Aktivitas gunung Lewotobi laki laki yang terjadi saat ini merupakan kelanjutan peningkatan sejak April hingga Mei 2026 lalu. 

Demikian kata Zakarias Dedu Ghele Raja, Kepala Balai Pemantauan Gunungapi dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Nusa Tenggara, kepada Kaddes.net ketika di konfirmasi Sabtu, 6 Juni 2026 siang. 

Zakarias Ghale Raja menjelaskan, peningkatan aktivitas vulkanik ini dapat dilihat dengan dominannya aktivitas kegempaan berupa gempa Vulkanik Dalam (Va) yang menunjukkan adanya suplai magma dari kedalaman. 

“Gempa vulkanik dalam ini sangat berpengaruh terhadap besarnya erupsi di G. Lewotobi Laki-laki seperti yang terjadi saat ini,” jelas Arioz. 

Selain itu, lanjut Arioz menjelaskan, ada rekaman iflasi pada tubuh gunung, yang menunjukkan suplai magma dan pengembangan tubuh gunung sudah terjadi sejak akhir april hingga awal Mei. 

“Artinya ini menunjukkan adanya tekanan akumulasi sudah berada pada tekanan yang dangkal,” lanjutnya menjelaskan. 

Lebih lanjut ia menjelaskan, saat ini aktivitas gempa Low Frequency menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dengan jumlah mencapai 11 kejadian pada 28 Mei dan 14 kejadian pada 31 Mei. Dibanding awal Mei yang umumnya hanya berkisar 0–3 kejadian per hari.

Peningkatan gempa Low Frequency saat ini  mengindikasikan semakin dominannya pergerakan fluida dan gas vulkanik pada  kedalaman dangkal. 

“Berdasarkan pola aktivitas Lewotobi sebelumnya, peningkatan Low Frekuensi setelah fase tingginya gempa Vulkanik Dalam sering berkaitan dengan proses migrasi magma dari zona dangkal ke bagian permukaan,” paparnya. 

Guna menghindari potensi dan ancaman akibat letusan yang terus terjadi, ungkap Arioz, Badan geologi meminta agar warga yang kini beraktivitas di seputaran kaki gunung untuk tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.*

Penulis: Tata Shinto | Editor: Sutomo Hurint

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *