Keluarga korban pembunuhan siswa SMP MBC Ohe, bersama GMNI Cabang Sikka, 10 Suku Romanduru, Senat Mahasiswa IFTK Ledalero dan masyarakat Kecamatan Hewokloang, kembali aksi damai di halaman Polres Sikka, Kamis 21 Mei 2026 siang.
Aksi unjuk rasa ini diwarnai kericuhan antara massa aksi dengan aparat polisi, usai dilakukan gelar ritual adat di depan Mapolres.
Kericuhan ini berawal ketika Ketua GMNI Cabang Sikka Wilfridus Iko, bersama tiga anggota nekat masuk ke Mapolres Sikka saat pintu masuk dijaga ketat puluhan anggota polisi.
Sejumlah anggota yang berada di penjagaan langsung berlari menuju ke-empat aktivitas GMNI lalu mengusirnya.
Disela-sela pengusiran tersebut, seorang oknum polisi langsung memegang salah satu aktivitas GMNI sambil menjambak rambutnya dan memukul pada bagian perut.
Melihat aktivitas GMNI dipukul, sejumlah massa aksi langsung masuk menyerbu halaman Mapolres Sikka. Akibatnya kericuhan pun pecah seketika.
Kericuhan akhirnya dapat diatasi setelah Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno datang merangkul Ketua GMNI Wilfridus Iko sambil menanyakan penyebab terjadinya kericuhan.
Kapolres Bambang Supeno akhirnya mempersilahkan massa aksi menempati halaman Mapolres Sikka, sambil menunggu hasil pertemuan antara Polres Sikka dengan sejumlah perwakilan massa aksi terkait dengan permintaan barang bukti milik korban yang belum dikembalikan seperti pakaian, potongan jari, rambut dan HP.
Sebagaimana pantauan Kaddes.net sebelum kericuhan, sejumlah perwakilan dari 10 suku Romanduru menggelar ritual adat di depan Mapolres Sikka.
Ritual adat ini sebagai dukungan massa aksi agar Polres Sikka segera mengungkap keberadaan barang bukti milik korban.
Ritual adat ini pun disaksikan Kapolres Sikka bersama Kasat Reskrim dengan mengambil suguhan arak dari ketua suku sebagai bentuk komitmen dalam mengungkapkan kasus kematian Noni.
Kapolres Janji Bawa 3 Pelaku ke TKP
Dialog selama tiga jam di ruangan Aula Mapolres Sikka antara perwakilan massa aksi dengan Kapolres terkait barang bukti milik korban tidak membuahkan solusi.
Sejumlah perwakilan massa aksi keluar dengan penuh kekecewaan yang mendalam. Massa aksi menilai Polres Sikka tidak profesional menangani kasus kematian STN alias Noni.
Dengan jiwa besar, Kapolres Sikka menemui massa aksi yang tengah berkumpul di teras depan Mapolres.
Paskalis, salah seorang perwakilan massa aksi di hadapan kapolres mengatakan, pihak keluarga seyogyanya percaya pada institusi kepolisian mampu bekerja secara profesional untuk menangani kasus kematian Noni secara terang benderang.
“Kami percaya Polisi mampu bekerja secara profesional. Untuk itu kami minta Polres Sikka bisa menangani kasus ini dengan baik. Kepada tiga pelaku yang ada, tolong buktikan kinerja polri dengan mengembalikan barang milik korban,” tegasnya.
Pada saat keluarga korban membutuhkan bantuan, lanjut Paskal, Polisi harusnya menjadi pengayom dan pelindung masyarakat, bukan membiarkan keluarga korban tidak mendapatkan keadilan.
“Kalau seandainya kasus ini dialami bapak ibu polisi, bagaimana? Kami orang kecil dan inilah saat polisi harus mengayomi kami,” tuturnya.
Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno di hadapan massa aksi mengatakan rasa empat atas kasus yang dialami keluarga besar almarhum STN.
Ia berjanji akan berkoordinasi dengan Kejaksaan, Pengadilan dan juga Rumah Tahanan Maumere, agar bisa membawa tiga pelaku untuk kembali mendatangi tempat kejadian perkara guna menemukan barang-barang milik korban.
“Memang sampai saat ini barang milik korban belum ditemukan. Saya akan komunikasi dengan Kejaksaan, Pengadilan dan Rutan agar bisa membawa tiga pelaku ke TKP untuk menunjukkan barang bukti yang belum ditemukan,” ungkapnya
Kapolres Bambang Supeno meminta dukungan dan doa dari semua pihak, agar kasus pembunuhan STN bisa terungkap secara tuntas.*
Penulis: Tata Shinto | Editor: Sutomo Hurint
