Pemerintah Kabupaten Sigi dan Konsorsium KOLABORASI Luncurkan Program Adaptasi Perubahan Iklim, Perkuat Ketahanan Masyarakat Sigi

Pemerintah Kabupaten Sigi meluncurkan program adaptasi ketahanan iklim

Pemerintah Kabupaten Sigi bersama Konsorsium KOLABORASI (Lingkungan Adaptif, Berketahanan, Inovatif, dan Partisipatif) secara resmi meluncurkan program Adaptasi Perubahan Iklim Kabupaten Sigi 2026—2028.

Adapun lembaga Konsorsium KOLABORASI ini terdiri dari Koaksi Indonesia, Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Water Stewardship Indonesia (WSI), dan Earth Innovation Institute (EII). 

Peluncuran program ini dihadiri langsung oleh Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, S.Sos., M.Si.  dan disaksikan oleh sejumlah pihak di antaranya Aria Nagasastra, Direktur Eksekutif Koaksi Indonesia; Willy Wicaksono, Program Manager Environment & Sustainable Governance Kemitraan; dan Franky Zamzani, S.Hut. M.Env., Direktur Adaptasi Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup yang hadir secara daring.

Program Adaptasi Perubahan Iklim ini bertujuan untuk menguatkan ketahanan masyarakat di Kabupaten Sigi terutama bagi kelompok rentan dan komunitas petani melalui penerapan aksi adaptasi yang efektif yang mencakup tiga pilar utama.

Tiga pilar utama tersebut antara lain yakni: pertama, penguatan kondisi pemungkin (enabling environment) untuk mendukung implementasi kebijakan adaptasi perubahan iklim di tingkat daerah.

Kedua, penerapan pendekatan Water, Energi, Food (WEF) Nexus dalam meningkatkan efektivitas pelaksanaan kebijakan adaptasi di tingkat desa.

Serta, ketiga adalah pengembangan pusat pembelajaran (center of excellence) adaptasi perubahan iklim di tingkat kabupaten sebagai sarana peningkatan kapasitas, penyebarluasan pengetahuan, serta replikasi praktik baik.

Program ini menargetkan lebih dari 1.500 penerima manfaat yang tersebar di enam desa, yaitu Desa Bangga, Desa Pandere, Desa Pakuli Utara, Desa Sambo, Desa Simoro, dan Desa Wisolo.

Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, S.Sos., M.Si., yang juga Ketua Umum Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) menyampaikan apresiasi kepada seluruh Konsorsium KOLABORASI yang telah memilih Sigi sebagai laboratorium nyata adaptasi iklim.

Mohamad Rizal mengatakan di tengah keterbatasan fiskal daerah saat ini, program Adaptasi Perubahan Iklim menjadi oase bagi pemerintah untuk tetap mendorong kinerja dan kebijakan iklim di Kabupaten Sigi.

“Ini sekaligus jadi bukti nyata kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan mitra nasional dan internasional dapat menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat di tingkat tapak,” ujar Mohammad Rizal dalam peluncuran program.

Pada peluncuran program ini sekaligus diselenggarakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kabupaten Sigi yang ditandatangani langsung oleh Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, S.Sos., M.Si. dengan Aria Nagasastra, Direktur Eksekutif Koaksi Indonesia sebagai lead consortium.

“Nota kesepahaman ini sebagai bentuk komitmen resmi semua pihak terhadap keberlangsungan program,” tegas Mohammad.

Lebih lanjut, dukungan pemerintah pusat terhadap program ini datang langsung dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Franky Zamzani, S.Hut. M.Env., Direktur Adaptasi Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup mengatakan pemerintah mendorong pendekatan adaptasi iklim yang tidak hanya berbasis kebijakan nasional, tetapi berakar pada realitas dan kebutuhan masyarakat lokal.

“Program di Sigi ini adalah contoh bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat menghadirkan solusi yang konkret dan terukur,” kata Franky Zamzani yang turut bergabung secara daring melalui Zoom.

Franky mengatakan sebagai lembaga yang menghubungkan pendanaan iklim internasional dengan implementasi di lapangan, Kemitraan untuk Pembaruan Tata Kelola menekankan pentingnya program ini sebagai model yang tepat sasaran.

“Program Sigi ini membuktikan bahwa pendanaan iklim internasional dapat benar-benar menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan, dengan pendekatan yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Willy Wicaksono, Program Manager Environment and Sustainable Governance, Kemitraan untuk Pembaruan Tata Kelola.

Koaksi Indonesia selaku lead consortium menegaskan bahwa program ini lahir dari keyakinan bahwa adaptasi iklim yang efektif harus dimulai dari komunitas yang paling terdampak.

“Pendekatan WEF Nexus di Sigi adalah langkah konkret untuk memastikan ketahanan air, energi, dan pangan berjalan beriringan, bukan saling mengorbankan. Ditambah adanya Forum Kemitraan Multipihak Sigi Hijau dapat menjadi pendorong kesuksesan program Adaptasi Perubahan Iklim di Sigi ini,” ujar Aria Nagasastra, Direktur Eksekutif Koaksi Indonesia.

Program yang berlangsung hingga April 2028 ini diharapkan dapat membangun fondasi kolaborasi yang solid untuk mendukung tercapainya visi Kabupaten Sigi sebagai wilayah yang tangguh dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.*

Penulis: Sutomo Hurint I Editor; Tata Shinto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *