Gempa Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih meninggalkan ceritera. Di Palue, pulau kecil yang berada persis di kaki Gunung Api Rokatenda, seorang ibu bersama lima anaknya menumpang tinggal di halaman rumah kerabat.
Maria Praselista, 50 tahun duduk termenung di halaman salah satu rumah yang sebagian besarnya roboh akibat gempa dahsyat, berkekuatan 7,7 magnitudo, Jumat, 15 Agustus 2026 lalu.
Rumah yang sebagian besar roboh itu beralamat di Dusun Cua, Desa Nitung Lea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka. Dusun ini, persis hanya berjarak dua kilometer dari puncak Gunung Api Rokatenda.

“Rumah kami sudah sampai rata dengan tanah, tinggal kenangan,” ungkap Maria, Jumat, 28 Agustus 2026 siang saat Kaddes.net, menghampiri.
Desa Nitung Lea merupakan salah satu yang terdampak cukup parah akibat gempa Flores. Tercatat, 229 unit rumah dalam kondisi rusak. Belasan di antaranya berada di Dusun Cua.
Secara keseluruhan, Posko Bencana Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka menyebut di Kecamatan Palue ada 8 desa terdampak. Di antaranya ada 4 desa mengalami kerusakan cukup parah, yakni Nitung Lea, Lidi, Lado Laka, dan Rokirole.
Data Posko tersebut juga menyebut, hingga Sabtu, 29 Agustus 2026, warga yang mengungsi mandiri 3.340 jiwa atau 892 kepala keluarga. Rumah warga yang mengalami kerusakan ringan berjumlah 505 unit, rusak sedang 54 unit dan rusak berat 500 unit.

Selain rumah, Maria Praselista pun nyaris tidak selamat. Dia mengalami patah tulang akibat tertimpa reruntuhan rumah saat gempa.
“Rumah kami rusak berat akibat gempa. Kami hanya bisa meratapi dan mengenang kisah suka duka selama tinggal sebelum gempa merusak rumah ini,” kata Maria pelan.
“Waktu gempa saya dan anak-anak lari keluar rumah. Saya sempat tertindih reruntuhan saat berusaha selamatkan anak,” tambah Maria.
Maria menuturkan, pascagempa, dia bersama lima anaknya memilih tinggal beratapkan tenda darurat di halaman rumah adiknya yang berjarak tidak jauh dari rumahnya. Sebagian besar rumah adiknya juga roboh.
“Saya dan lima anak tinggal sementara di tenda darurat di halaman rumah adik ini,” kata Maria, ibu lima anak yang tinggal suami merantau di Kalimantan sebelum gempa dahsyat mengguncang Palue.

Hampir setiap pagi, siang dan malam, Maria bersama lima anak tidur dan beristirahat di tenda darurat tersebut. Mereka selalu menerima bantuan baik dari pemerintah maupun relawan.
Meski begitu, Maria Praselista tetap berharap bisa kembali ke rumah melanjutkan hidup bersama lima anaknya. Dia pun berharap agar rumahnya yang roboh dibangun kembali oleh pemerintah meski dalam bangunan sederhana. *
Penulis: Tata Shinto I Editor: Sutomo Hurint
