Gempa dahsyat berkekuatan 7,7 magnitude yang mengguncang Pulau Flores, Sabtu 15 Agustus 2026 lalu menyisakan dampak yang sungguh luar biasa di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Sedikitnya 1.050 rumah warga Palue mengalami kerusakan, 500 rumah di antaranya dalam kondisi rusak berat.
Ribuan warga Pulau Palue yang berjarak sangat dekat dengan episentrum Gempa Flores mengungsi, baik mandiri maupun ke lokasi terpusat di wilayah itu.
Salah satunya, ribuan warga Desa Nitung Lea, yang hanya berjarak 2 kilometer dari puncak Gunung Api Rokatenda. Sebagian besar rumah warga setempat rusak berat bahkan ada di antaranya rata dengan tanah.

Warga berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri dan mengungsi di tenda darurat yang dibangun sendiri maupun bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Selama duabelas hari pascagempa Flores, ribuan warga Desa Nitung Lea masih mengungsi. Warga berharap bantuan pemerintah selama masa tanggap darurat.
“Akibat gempa, rumah saya ambruk dan saat ini saya dan keluarga bertahan di tenda pengungsian,” ungkap Kristianus, warga Dusun Nitung, Palue, Sabtu 29 Agustus 2026.
Selain masih membutuhkan bantuan pemerintah selama masa tanggap darurat, Kristianus dan warga lainnya berharap bisa mendapatkan bantuan rehab rumah mereka yang ambruk akibat gempa.

Berdasarkan data Posko Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, hingga Sabtu, 29 Agustus 2026, warga yang mengungsi mandiri 3.340 jiwa atau 892 kepala keluarga.
Rumah warga yang mengalami kerusakan ringan berjumlah 505 unit, rusak sedang 54 unit dan rusak berat 500 unit.
“Di Kecamatan Palue ada 8 desa terdampak, 4 di antaranya mengalami kerusakan cukup parah, yakni Desa Nitung Lea, Desa Lidi, Desa Lado Laka, dan Desa Rokirole,” kata Rudolfus Riba, Camat Palue. *
Penulis: Tata Shinto I Editor: Sutomo Hurint
