Warga Desa Pagomogo di Nagekeo Krisis Air Bersih

Memasuki musim kemarau, ketersediaan air bersih menjadi ancaman bagi masyarakat demi kebutuhan setiap hari harus berjuang mendapatkan pasokan air bersih walau dengan berjalan kaki. 

Kondisi ini pun dialami warga Desa Pagomogo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. 

Setiap seminggu sekali sejak tiga bulan terakhir, warga harus mengantri berjam-jam bahkan hingga malam hari dengan puluhan jerigen kosong agar bisa mendapatkan jatah air bersih dari bak penampung. 

“Setiap memasuki musim kemarau, desa kami selalu kesulitan air bersih. Debit air dari sumber mata air sangat menurun drastis,” ungkap Nensi usai antrian di lokasi penampungan air pekan lalu. 

Ia menuturkan, akibat debit air menurun, maka setiap rumah mendapat jatah 20 jaringan dengan kapasitas 5 liter. Namun jika debit air berkurang dari biasanya warga terpaksa mendapatkan 5 jerigen per kepala keluarga. 

“Yang menyakitkan itu saat antri hingga larut malam, tiba-tiba pasangan air di penampungan habis, terpaksa kami pulang dengan tangan kosong,” keluhnya. 

Jika pasokan air habis, lanjut Nensi, warga terpaksa berjalan kaki sejauh empat kilometer menuju sungai untuk mendapatkan air bersih agar bisa digunakan untuk masak dan minum. 

“Kami berharap pemerintah bisa mencari solusi agar kesulitan air yang kami alami bisa teratasi,” pinta Nensi.*

Penulis: Tata Shinto | Editor: Sutomo Hurint

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *