Senin, 22 Juni 2026, suara Andreas Ope Odu (67) menyapa pelan dan lembut. Siang yang terik itu, ia bersama kaum ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Sedang Mekar, membersihkan rumput di demontration plot (lahan contoh) dampingan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Barakat.
Sudah hampir dua dekade ini, Ande dan petani di desa Riabao, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi kenyataan dampak dari perubahan iklim.
“Sekarang ini waktu tanam itu sudah jauh berbeda. Dulu, puluhan tahun lalu, pada awal Oktober kita sudah bisa tanam. Namun, saat ini kita hanya bisa tanam di bulan Desember karena hujan datang terlambat,” Cerita Ande kepada Kaddes.net.
Hasil Panen Menurun
Tak berhenti dengan kebingungan mengenali awal masa tanam, kemarau panjang, suhu panas yang tinggi, disertai serangan hama kupu-kupu putih menyerang kebun mete miliknya, hasil panen pun menurun drastis, tak sampai 1 ton per tahun.
“Beberapa tahun itu, hasil panen mete tidak sampe lima ratus kilo. Bunga hangus dan mati semua,” ungkap Ande.
Tak hanya mete, meningkatnya suhu panas juga berimbas pada menurunnya produktivitas tanaman jagung dan sayur-sayuran.
“Jagung dan sayur itu hampir kita tidak bisa panen. Suhu panas terlalu tinggi,” ungkap Ande.
Setahun Panen Tiga Kali
Garangnya krisis iklim, bukan berarti tak dapat ditaklukkan. Pak Ande, punya cerita sendiri. Di tengah demplot, Pak Ande berbagi kiat-kiat bagi para petani dalam menghadapi krisis iklim.
Salah satunya adalah dengan membuat lubang tanam sebagai tempat penyimpanan air. Lubang tersebut ditutupi dengan sampah sisa hasil pengolahan kebun. Fungsi lubang ini menjadi tempat penyerapan air hujan dan sampah kebun sebagai sumber pupuk bagi tanaman.
Ia menuturkan sebelum diintervensi pola tanam dalam program ‘Tani Cerdas Iklim’ hasil panen jagung tidak sampe 1 ton. Tapi, setelah diintervensi hasil panennya kian meningkat.
“Pada tahun 2004, itu dua kali panen. Tahun ini 3 kali panen. Setahun, hasil panen untuk jagung capai 10 ton,” ungkap Ande.
Pola tanam ini juga diterapkan pada tanaman mete. Rupanya, hasil panen mete juga meningkat.

Ia menjelaskan mete itu memang tanaman yang hidup di wilayah tropis. Meski mete mampu bertahan hidup pada musim kering yang panjang, namun kelembapan tanah harus tetap dijaga.
“Pola intervensinya sama yang dilakukan. Mete itu, sebelum itu lima ratus Kilo juga susah. Setelah diintervensi, naiknya menjadi 2 ton per hektar,” ungkap Ande.
Selain menerapkan pola lubang tanam, Ia juga menerapkan pola tanam Tumpang Sari pada lahan perkebunan Mete miliknya. Dengan menanam beberapa jenis tanaman pada sela-sela lahan perkebunan mete.
Ande menuturkan penerapan pola tanam Tumpang Sari meningkatkan pendapatan ekonomi karena pendapatan tidak bergantung pada satu jenis tanaman tetapi beberapa jenis tanaman lain.
“Pendapatan saya meningkat karena sumber pendapatan tidak hanya pada mete, tetapi juga pada jagung dan tanaman lainnya,” ungkap Ande.
Ia menuturkan kedua pola tanam ini menjadi kunci keberhasilannya menghadapi krisis iklim. Ia mengaku sejak menerapkan pola tanam dalam program ‘Tani Cerdas Iklim’ pada tahun 2004, Ia tak pernah mengalami gagal panen, bahkan produksi dan sumber pendapatannya juga meningkat.
“Sejak menerapkan pola pertanian cerdas, untuk gagal panen tidak pernah saya alami. Bahkan, pendapatan saya meningkat karena produksinya meningkat,” tandas Ande.
Intervensi LSM Barakat
Cerita sukses Pak Ande menghadapi kekeringan panjang ini diperoleh berkat intervensi LSM Barakat, sebuah lembaga yang berpusat di Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, NTT.
Thesa Kabellen Program Manager INCIDENT Barakat menjelaskan dalam menghadapi tantangan keberlanjutan di tengah Krisis Iklim LSM Barakat mendorong program ‘Petani Cerdas Iklim’, sebuah program kerja sama dari Catholic Relief Services (CRS).
Melalui program ini Barakat melakukan intervensi terhadap pola pertanian tradisional untuk meningkatkan hasil panen pertanian di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Jadi yang kita tawarkan kepada masyarakat itu adalah program pertanian cerdas iklim. Dalam program ini petani tidak hanya mengenal pola alam. Tetapi, dengan intervensi pola tanam yang berdampak pada hasil panenan petani,” jelas Thesa.
Adapun intervensi yang dilakukan adalah Tampan (Tanam, Simpan, Panen, Air), Pemulsaan (Pemanfaatan Material atau limbah kebun untuk menutup muka tanah dan pupuk), pola tanam Tumpang Sari, dan pemanfaatan tanaman dapur sebagai Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
Ia menjelaskan dalam pola Tampan para petani membuat lubang tanam dengan ukuran 60×60 di dalam kebun, dan beberapa lubang tanam dengan variasi ukuran yang berbeda di keempat sudutnya.
“Fungsinya, menahan air hujan terserap kedalam tanah agar dapat diambil oleh akar tanaman. Harus diingat bahwa tanaman itu butuh air, bukan butuh hujan. Itu yang selalu kami ulang-ulang ketika kami bertemu dengan petani-petani di desa,” tutur Thesa.

Sementara itu, dalam pola Pemulsaan para petani diajak melakukan pemanfaatan sampah atau material sisa kebun untuk pupuk organik bagi tanaman.
Dalam konsep ini kami mengajak petani mengintervensi lahan dengan pola organik tanpa tebas bakar. Sebab, pola pembakaran lahan menyebabkan hilangnya 15 unsur hara dan mineral yang dibutuhkan untuk kesini tanah.
“Dalam pola organik, limbah kebun tidak dibakar tetapi digunakan kembali untuk kesuburan tanah. Limbah kebun berfungsi menekan penguapan dan tanah di kebun tetap lembab,” ungkap Thesa.
Dalam rangka meningkatkan pendapatan ekonomi, dalam program Tani Cerdas Iklim’ para petani juga diajak untuk menerapkan pola tanam Tumpang Sari dengan menanam beberapa jenis tanaman pada satu lahan kebun yang sama.
“Misalnya, pada lahan jagung. Dalam lahan yang sama, di sela-selanya juga ditanami buah labu dan kacang tanah. Terus, di penghujung musim hujan, ditanami kacang hijau, karena, kacang hijau itu, hanya butuh embun saja. Dia tidak butuh hujan untuk bertahan hidup,” jelas Thesa.
Menurut Thesa, pola tanam tumpang sari ini sangat membantu meningkatkan pendapatan ekonomi bagi para petani sebab para petani dapat memanen beberapa jenis tanaman dalam satu musim panen.
“Dalam satu masa itu, petani tidak hanya panen satu jenis tanaman saja, tetapi petani bisa panen beberapa jenis tanaman lain. Ini jelas menguntungkan petani,” tandas Thesa.
Sementara itu, dalam pola pemanfaatan tanaman dapur, sebagai Pengendalian Hama Terpadu (PHT), Thesa menjelaskan di dalam lahan pertanian ditanami beberapa jenis tanaman dapur seperti Sere, Daun Bunga Tai Ayam, Kemangi, Kunyit, Halia, dan Lombok.
Thesa mengatakan tanaman ini dapat diintervensi menjadi pestisida yang dapat digunakan dalam sistem pengendalian hama.
“Beberapa jenis tanaman dapur ini memiliki aroma yang dapat mencegah datangnya hama dan mengusir hama,” ungkap Thesa.
Menurut, Thesa pola intervensi dalam program ‘Tani Cerdas Iklim’ ini sangat berdampak bagi para petani. Para petani bisa memanen Jagung 3 kali dalam setahun dan pendapatan ekonomi juga meningkat.
“Menjadi petani harus cerdas. Karena dari hasil pertanian menjadi sumber penghidupan kita. Kita tidak bisa menerapkan pola pertanian kita dengan bergantung pada musim hujan,” tutup Thesa.
Penulis: Sutomo Hurint I Editor: Tata Shinto.
