Kabupaten Sikka merupakan salah satu daerah dengan memiliki sejumlah potensi, ancaman dan kerentanan terhadap sejumlah bencana di tanah air.
Untuk membangun budaya siaga bencana dan melindungi warga sekolah baik itu siswa, guru, dan staf dari dampak buruk bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka gelar BPBD go to School.
Aksi BPBD go to School ini dipusatkan lembaga pendidikan menengah di wilayah Kecamatan Waigete, yakni SMP Negeri Waigete dan SMP PGRI Egon dan selama dua hari berlangsung pada tanggal 21 dan 22 Mei 2026.
Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sikka, Petrus Poling Wairmahing mengatakan, BPBD go to School merupakan salah satu langkah mitigasi dalam Satuan Pendidikan yang Aman Bencana (SPAB), melalui sosialisasi dan pelatihan kesiapsiagaan bencana.
“Tujuan utamanya adalah membangun budaya siaga bencana dan melindungi warga sekolah (siswa, guru, dan staf) dari dampak buruk bencana,” kata Petrus Poling.
Pet Poling menjelaskan, Penerapan program SPAB di sekolah oleh BPBD mencakup tiga pilar utama mulai dari manajemen penanggulangan bencana di Sekolah, membentuk tim siaga bencana sekolah dan menyusun rencana kontingenti penanganan bencana di lingkup sekolah.
“Guna meminimalisir dampak bencana di lingkungan sekolah, pihak sekolah harus memastikan struktur dan lingkungan fisik bangunan sekolah sesuai dengan standar keamanan dari ancaman bencana,”jelas Polin.
Lebih lanjut Polin menjelaskan, pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana, harus mengintegrasikan materi kebencanaan ke dalam kurikulum dan mengadakan simulasi evakuasi rutin untuk melatih kesigapan warga sekolah saat terjadi keadaan darurat.
“Untuk kita di Sikka, selain gsmpa bumi dan tsunami, ancaman bencana gunung meletus dan angin kencang yang harus mendapatkan perhatian serius dalam komunitas pendidikan agar meminimalisir dampak bencana yang terjadi,” paparnya.*
Penulis: Tata Shinto | Editor: Sutomo Hurint
