Kampung Wukur merupakan salah satu Dusun di Desa Sika, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka yang berada di bawah lembah perbukitan iligai.
Di bawah lembah yang dikelilingi bukit berbatu cadas ini berdiri bangunan Sekolah Dasar Katolik Wukur, sebagai tempat generasi muda sebanyak 34 orang mengenyam pendidikan tingkat dasar, dengan jumlah guru sebanyak 8 orang.
Dari kejauhan, bangunan sekolah tampak bagus karena karena baru direhap beberapa tahun lalu sebagai bentuk dukungan fasilitas pendidikan.
Namun dibalik gagahnya bagunanan, terpancar buramnya potret dunia pendidikan di wilayah pedalaman Kabupaten Sikka.
Betapa tidak, dari tiga ruangan kelas yang ada, ternyata masih memiliki kekurangan ruang belajar untuk anak-anak.
Untuk belajar, pihak sekolah terpaksa mensekat ruangan yang ada menjadi ruang kelas. Termasuk ruangan kantor Sekolah yang berdiri tahun 1984 ini.
“Gedung ini baru direhap. Tapi kami masih kekurangan ruang belajar. Makanya kami sekat ruangan yang ada menjadi tempat anak-anak dan guru untuk KMB,” kata Tersiana Dua Rosa, Kapala Sekolah SDK Wukur, Rabu kemarin.
Ia menjelaskan, untuk kegiatan belajar mengajar siswa kelas enam, pihak sekolah menyulap salah satu sudut ruangan kantor sekolah menjadi kelas. Demikian juga untuk ruang KBM kelas satu sampai lima menggunakan tiga ruangan bangunan baru yang direhap menjadi ruangan belajar.
“Kami berharap, kiranya sekolah kami bisa mendapatkan ruangan baru lagi untuk aktivitas KBM anak didik,” tuturnya.
Ia pun menambahkan, kekurangan lain yang dialami sekolah adalah tidak adanya akses jaringan internet di wilayah lembah iligai.
Kondisi ini menyebabkan siswa kesulitan untuk mengikuti ujian berbasis komputer sesuai amanah pemerintah.
Jika jadwal ANBK tiba, pihak sekolah harus memboyong anak siswa ke SDK Sikka, yang ada dii pusat desa Sikka dengan berjalan kaki sejauh 6 km.
“Karena tidak ada sinyal telekomunikasi, saat ANBK kami terpaksa harus bawah anak-anak ke sekolah terdapat. Disini kami juga dapatkan bantuan tv digital dari Presiden Prabowo, tapi tidak kami gunakan karena terkendala jaringan tadi,” papar Siti.*
Penulis: Tata Shinto | Editor: Sutomo Hurint
