Selama 11 Tahun Mengabdi dengan Gaji 150 Ribu–‘Awal Jadi Guru Saya Dibayar 15 Ribu’

Guru merupakan pelita dalam kegelapan untuk mencerdaskan anak bangsa, walaupun upah tidak sebanding dengan pengabdian, mencerminkan perjuangan para pendidik di pelosok negeri ditengah keterbatasan. 

Kondisi ini pun dialami salah satu guru honorer di lembaga pendidikan dasar swasta di Kabupaten Sikka, Propinsi Nusa Tenggara Timur, rela berjalan kaki pulang pergi sejauh 12 kilometer dari rumahnya menuju tempatnya mengajar walaupun dengan upah Rp. 150.000, per bulan. 

Ia adalah Yustina Yuniarti, seorang guru perempuan berusia 30 tahun, warga Kampung Sika, Desa Sikka, Kecamatan Lela. 

Kamis, 30 April 2026 pagi, bersama dua rekan wartawan, kami menuju Desa Sika untuk menelusuri perjuangan Yustina Yuniarti, seorang guru honorer yang mengabdikan diri selama 11 tahun di Sekolah Dasar Katolik Wukur. 

SDK Wukur merupakan satu-satunya lembaga Pendidikan dasar milik swasta di Dusun Wukur, dengan jumlah siswa 34 orang dan berada di lembah pegunungan iligai dan berbatasan dengan Desa Hokor, Kecamatan Bola. 

Setiap pagi pukul 07.00 Wita, Yuniarti memulai harinya dengan berjalan kaki melewati jalan setapak, berbatu cadas, mendaki bukit dan menuruni lembah menuju Dusun Wukur.

Guru Yuniarti istrahat sejen di gubuk darurat

Sepanjang perjalanan sejauh 6 Kilometer selama 2 jam beralaskan sendal jepit, ia selalu ditemani kicau burung, dan monyet.

Terkadang dirinya harus beristirahat sejenak di pinggiran gubuk kecil ditemani sejumlah ternak kambing sambil mendengarkan irama hempasan ganasnya gelombang pantai selatan. 

Tanpa dedikasi yang besar, gadis remaja yang berusia 30 tahun ini, mungkin tak akan mampu bertahan selama 11 tahun terakhir, sebagai guru honorer di SDK Wukur. 

Apalagi gaji yang diterima setiap bulan sebesar Rp. 150.000, hasil belas kasihan komite sekolah yang jauh dari upah minimum regional. 

“Beginilah aktivitas saya setiap pagi selama 11 tahun hingga saat ini harus jalan kaki ke sekolah demi masa depan anak negeri,” ungkap Yuniarti saat istrahat sejenak di bawah gunung sebelum melanjutkan perjalanan ke sekolah, Kamis 30 April 2026 pagi. 

Suasana mengajar di Kelas V SDK Wukur, Kabupaten Sikka

Ia mengisahkan, awal menjalankan tugas sebagai guru honorer pada tahun 2015 lalu, hanya demi mencari pengalaman mengajar di daerah terpencil walaupun hanya dihargai Rp. 15.00 perbulan bahkan tak pernah dibayar selama beberapa bulan. 

Namun seiring perjalanan waktu, tujuan mencari pengalaman berubah menjadi pengabdian tulus karena melihat pentingnya pendidikan bagi generasi muda bangsa yang berada di pedalaman dengan segala keterbatasan fasilitas pendidikan yang dimiliki. 

“Awal jadi guru tahun 2015 lalu, saya dibayar Rp. 15.000, bahkan kadang tidak dibayar,” paparnya mengisahkan sambil melanjutkan perjalanan hingga tiba sekolah. 

Setibanya di sekolah, gadis kelahiran 1 Juni 1996 ini beristirahat sejenak, menyapa rekan guru dan kepala sekolah, lalu menuju ke ruang kelas 5 untuk mengajar anak bangsa.

Dengan penuh semangat, ia pun membimbing dan mengajarkan mata pelajaran bahasa Indonesia bagi para siswa. Walaupun gaji yang diterima hanya sebatas untuk membeli pulsa data. 

Pesan untuk Presiden Prabowo

Mencerdaskan anak negeri di pedalaman tanah air merupakan tantangan dalam pengabdian tulus seorang guru, seperti yang dijalani guru Yustina walaupun dengan insentif yang diterima jauh dari harapan. 

Usai mengajar, Yustina yang lahir bertepatan dengan hari lahir Pancasila ini menitipkan pesan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk melihat kondisi para guru honorer. 

“Bapak Presiden tolong perhatikan nasib kami guru honorer yang mengajar di pedalaman menerima gaji dari bekas kasihan komite sekolah dan dari dana BOS,” pintanya. 

“Kalau bisa Bapak Presiden tolong mengangkat para guru honorer di pedalaman menjadi guru dengan status ASN,” lanjutnya menitipkan pesan. 

Selain itu, ia pun meminta agar Pemerintah bisa membangun rumah guru yang bertugas di pedalaman agar tidak lagi berjalan kaki melintasi hutan dan lembah ke sekolah. *

Penulis: Tata Shinto | Editor: Sutomo Hurint

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *